Catatan Yal Aziz: Selamat Bertugas Jadi Duta Besar Singapore, Mas Tommy

LANGKAH, rezeki, pertemuan dan maut, memang sudah menjadi rahasia Allah terhadap hamba-Nya. Untuk itu syah dan wajar saja jika Syuryopratomo yang akrab disapa Tommy, dilantik Presiden Jokowi bersamaan 20 duta besar di Istana, Senin pagi, 14 September, 2020.

Apa yang dikatakan Ilham Bintang ada benarnya;”Tommy salah satu dari wartawan yang berhasil menjadi duta besar sepanjang sejarah Indonesia. Dia dubes pertama untuk Singapura yang berlatar belakang jurnalis.”

Tommy, sapaan akrab wartawan senior, dan mantan Pemimpin Redaksi Kompas itu. Wartawan Kompas pertama yang mendapat pepercayaan menjabat pemred Harian Kompas pada tahun 2000. Tommy menggantikan Jakob Oetama —-pendiri dan pemilik —- kerajaan Kompas Gramedia yang menjabat pemred sejak media itu berdiri 1965.

Setelah menyelesaikan tugas di Kompas, Tommy pindah ke Metro TV dan menjadi pemred di stasiun milik Surya Paloh. Kemudian menjadi Direktur Utama di MetroTV hingga 2019.

Dari sekian banyak kenangan bersama Tommy, ada peristiwa yang mendebarkan terjadi di Kuala Lumpur Malaysia ketika saya dan Hardimen Koto bertugas meliput berita kejuaraan sepakbola Piala Kemerdekaan, 1992.

Waktu tu, saya, Hardiemen Koto dan Tommy sama-sama menginap di Hotel Mirama tak berapa jauh dari stadion sepakbola, Kota Kuala Lumpur. Tapi disaat  asyik menulis berita tentang kekalahan Timnas Indonesia dari China, Hotel Mirama tempat kami menginap dan menulis berita terbakar.

“Yal, Tom, coba lihat ke  bawah, kok suara sirine ribut banget,” kata Hardimen Koto yang masih asyik menulis berita. Soalnya perbedaan waktu Indonesia -Malaysia, lebih kurang 1 jam.

Akhirnya Tommy yang melihat suara sirine dari jendela Hotel Mirama berlantai tujuh dan kami berada di lantai tujuh. “Yal, Men hotel kita nginap terbakar,” kata Tommy sambil menuju kamar mandi untuk mengabil handuk.

Saya watu itu langsung memasukan laptop kedalam tasnya dan langsung berlari menuju pintu keluar. Kami sama keluar dari kamar mencari pintu turun dan life tak berfungsi lagi dan asap hitam menggelapkan pandangan.

Setelah berlari dan tak menemuan tangga darurat, saya pasrah dan berdiri didinding hotel;”Ya Allah, di Kota Kuala Lumpur ini saya menghadapmu, dan mohon lindungi istriku yang lagi hamil.” Waktu itu istri hamil  delapan bulan.

Dari sikap pasrah tersebut, saya mendengar suara Tommy. “Yal, Men aku ketemu pintu darurat.”

Perkataan itu diulangnya berkali-kali, sehingga saya dan Hardimen Koto bertemu dan langsung mengikuti Tommy dari belakang turun dengan tangga darurat.

Sesampainya di bawah, Hardimen Koto langsung  tak sadarkan diri dan seakan menggigau dengan bahasa ngelantur, berbahasa Inggris.

Dari kondisi yang tak normat tersebut, Tommy meminta saya untuk membawa Hardimen Koto ke rumah sakit dan masalah berita, dia yang akan menulis dan menyelesaikannya.

Dari kejadian ini, terlihat sekali sikap profesional Tommy masalah solidaitas berteman dan tanggungjawab profesinya menulis berita. Selamat bertugas Mas Tommy, semoga sukses. (penulis wartawan tabloidbijak.com)