Kadis PUPRP Kota Pariaman Asrizal Alergi Dengan Wartawan, Terkesan Lepas Tanggung Jawab Sebagai Pemimpin

TABLOIDBIJAK.COM (Kota Pariaman)—Kepala Dinas Pekerjaan Umum Penata Ruang dan Pertanahan, (PUPRP) Kota Pariaman, Asrizal, ST, alergi dengan wartawan. Buktinya, saat diminta keterangannya, tentang  pekerjaan trtoar Jalan Diponegoro, Kampung Pandok, baru satu tahun sudah mulai rusak, Senin, (24/8/2020)

Asrizal, terkesan lepas tangan dari pekerjaan tersebut dan menyuruh menemui  Kabid Tata Ruang. “Silahkan saja langsung dengan PPK Kabid Tata Ruang, tulis Asrizal, melalui WahtsAppnya.

Ketika ditanya, tentang pekerjaan lain yang menurut informasi beredar di lapangan tidak seuai target dan banyak putus kontrak pada tahun anggaran 2019, seperti, RS Sadikin, GOR Rawang, Gedung Serba Guna Pauh dan Trotoar, Simpang Apar dan Trotoar Jalan Kampung Cino.

Kemudian yang ditanyakan lagi, tentang pembangunan Pasar Pariaman dan Pembangunan Mesjid Terapung Kota Pariaman, Asrizal, menjawab dengan pesan WahtsAppnya, soal Pasar Kota Pariaman, silahkan tanyakan ke Balai Padang. Soal rumah sakit Sadiki, tanyakan ke Kadis Kesehatan Kota Pariaman.

Kabid Tata Ruang Dinas PUPRP Kota Pariaman, Deki Asar, saat dihubungi di ruang kerjanya, Selasa (25/8/2020) mengatakan, sebenarnya, yang harus menjawab pertanyaan wartawan Kadis PUPRP, bukan saya. “Tetapi, karena dilimpahkan kepada saya, tentu saya akan jelas apa adanya,” tutur alumni Bung Hatta  dengan senyum dan santai.

Kata Deki Asar, soal pekerjaan Trotoar Jalan Diponegoro, bukan tugas Kabid Tata Ruang. Teta[i  Kabid Bina Marga Jalan dan Jembatan yang dipegang Saldin dengan bawahannya, Mayulis. Kata Deki lagi, saya terima kasih atas kunjungan wartawan  sehingga saya dapat menjelaskan, terhadapisu isu yang kura kurang baik dan berkembang di lapangan kepada masyarakat melalui media,” tukuk laki laki kelahiran 1974 ini.

Kabid Bina Marga Dinas PUPRP Kota Pariaman, Saldin didampingi stafnya, Mayulis menjelaskan, soal proyok Trotoar Jalan Diponogoro, tidak sebetulnya yang dipermasalahkan. Terkait dengan pekerjaan yang sudah mulai rusak, karena  kontraktor yang mengerjakan kehabisa waktu.

Sesuai dengan peraturan dan aturan pekerjaan yang sudah habis masa waktu, kontraknya diputuskan. Tetapi pihak kontraktor ngotot juga melanjutkan pekerjaannya. Sehingga, pekerjaan yang dikerjakan setelah kontrak diputuskan tidak  dananya tidak dibayarkan.

“Jadi yang rusak itu, kerja yang tidak dibayar oleh Pemko Pariaman,” ucap Mayulis yang diamini oleh Saldin.

“Kalau saya tidak bisa menjelaskan, karena pekerjaan itu, sebelum saya  menduduki jabatan ini dan saya masuk disini baru 6 bulan,”  ujar Saldin, sambil tersenyum santai.

Saldin, juga menambahkan, Kadis PUPRP Asrizal, setelah membaca  pesan di WahtsApp nya dari Bapak wartawan, menayakan kepada dirinya, apa kenal dengan wartawan ini, saya bilang kenal, karena wartawan yang ini sudah karatan di Kota Pariaman dan juga warga Kota Pariaman. Tetapi, kenapa Kadis PUPRP tidak mau menerima Bapak wartawan, merupakan hak dia,” ulang Saldin lagi.

Ditambahkan Mayulis, terkait Kontraktor Pekerjaan Torotar Kampung Pondok yang menggugat ke pengadilan negeri,  yang digugatnya, selisih pekerjaan yang sudah dihitung dan dinilai oleh pengawas lapangan.

Hasil evaluasi pengawas lapangan, bobt pekerjaan yang bisa dibayarkan  70 parsen. Sementara, kontraktor ngotot 99 parsen. Jadi  renggang 29, parsen itulah yang diimintanya supaya dibayarkan dengan nilai lebih dari 1 miliar rupiah. “Karena hakim yang mengatakan wajib dibayar, mau tidak mau Pemko membayarkannya,” tukuk Mayulis lagi.

Menurt  Mayulis pekerjaan Trotoar Kampung Pondok nilai kontraknya 7 miliar rupiah dengan panjajng pekerjaan 900 meter. “Saya terima kasih juga kepada Bapak wartawan yang sudah mau minta penjelasan kesini,” ucap Mayulis dan Saldin. (aa)