Uang Ganti Rugi Pembebasan Tanah Jalan Tol Kasang Tarok City Sudah Bisa Diambil

TABLOIDBIJAK.COM (Padang Pariaman)—-Pembebasan tanah untuk jalan tol Kasang Tarok City, sebagai Penlok satu 0 sampai 4,6 kilo meter sudah selesai dan tidak ada masaalah lagi. Uang ganti ruginya sudah tersedia, tinggal pemilik tanah untuk mengambil di Pengadilan Negeri (PN) Pariaman.

Demikian disampaikan Kepala Badan Pertanahan Nasional (BPN) Padang Pariaman, Gatot Teja.P ketika ditemui di ruang kerjanya, Rabu (3/6/2020). Menurut Gatot Luas tanah Penlok satu itu, 129 bidang.

Kemudian untuk tahap Penlok II dari, kilo meter4,6 sampai ke kilo meter 36 di Tarok City, kini permasaalahan penyelesaiannya di pegang Tim Satgas A dan B Provinsi Sumatera Barat di bawah komando Kanwil BNP Sumbar.

“Secara pribadi kita sangat berharap penyelesaian ini dapat berjalan lancar dan sukses, sesuai dengan waktu yang tersedia, sehingga pihak pengusaha pembangunan jalan tol, dapat bekerja lebih cepat dan sesuai dengan target yang telah ditetapkan,” ucap Gatot yang baru menjabat kepala BPN Padang Pariaman, sejak 12 Maret 2019.

Pimpinan Project Director PT. Hutama Karya, Marthen Singal.dalam menjawab pertanyaan wartawan di ruang kerjanya, Selasa (2/6/2020), diakuinya pekerjaan sudah terlambat dari rencana awal sebelumnya.

Jalan Tol Pekan Baru-Dumai, sama peresmian pembukaannya dengan Padang Pariaman-Pekan Baru. “Tetapi ruas Pekan Baru Dumai, sudah selesai dan tinggal peresmian pemakaian oleh Presiden RI Jokowi Dodo,” ujarnya.

Asisten III Kantor Bupati Padang Pariaman, Hj. Fakhriati, sebagai Tim pembebasan awal tanah jalan Tol Padang Pariaman-Sicincin, ketika diminta komentarnnya, Rabu (3/6/2020) malam, mengatakan, peletakan batu pertama dimulainya pembangunan jalan tol tersebut, tanggal 9 Februari 2018, oleh Presiden RI Jokowi Dodo.

Menurut Fakriayati terjadi keterlambatan dan molornya, pembangunan jalan tol itu, disebabkan ganti rugi tanah masyarakat tidak sesuai dengan yangapa disampaikan Presiden Jokowi Dodo. Karena Presiden mengatakan, tanah masyarakat akan diganti untung.

Tetapi yang terjadi diganti rugi. Akibatnya timbul gejolak di lapangan, sehingga terpaksa Tim apresal kerja keras kembali dengan mengangkat harga ganti dari sebeumnya. Namun masyarakat masih saja yang belum puas,” ujar Fakhriyati yang akrab disapa dengan buk yet ini. (aa)