Cerbung Yal Aziz: Ku tunggu Dipintu Syurga (Bagian ke-2)

MENDENGAR jawaban buk Luciana tentang anaknya Maini yang lagi membaca Al-Quran, kian membuat hati Boy Satria semakin gelisah dan ingin bertemu. Tapi setelah lebih dari satu jam duduk di warung dan telah menghabiskan kopi susi, namun Maini yang diharapkan muncul, tak kunjung jua keluar dari kamarnya.

Tanpa ba bi bu, Boy Satria langsung meminta buk Luciana mengitung jumlah minumannya. “Kopi susu segelas, goreng pisang dua dan goreng ubi kayu tiga,” katanya sembari merogoh saku celana jeansnya.

“Sepuluh ribu,” kata buk Luciana sembari memberikan nota catatan.

“Yolah buk,” kata Boy Satria sembari meminta kepada buk Luciana menyampaikan salamnya kepada Maini, yang sejak dari shalat magrib tak kunjung keluar dari kamarnya.

Dalam perjalanan menuju rumah kostnya, beberapa kali Boy Satria tetap mengalihkan pandangannya ke warung buk Luciana dengan harapan, Maini muncul. Tapi setelah lepas pandang, gadis impiannya tak kunjung juga muncul.

Pas dipersimpangan jalan, munculah teman satu kampusnya, Edison Naigolan dengan sepeda motornya yang sengaja melambat ketika meliat Boy Satria berjalan santai dengan raut wajah kecewa.

“Hey Noy, darimana saja kamu. Tapi kucari di tempat kostmu, katanya kamu ke masjid tuk shalat magrib,” kata Edison Naigolan sembari menawarkan Boy Satria untuk naik ke sepeda motornya.

“Ach tanggung,’ kata Bor Satria sembari menyebutkan, dirinya ingin berjalan saja sampai di kamar kost.

“Ayolah,” kata Edsison Nainoggolan sembari memainkan suara sepeda motornya.

“Ndak usahlah,” kata Boy Satria sembari mempersilahkan Edison Nenggolan menunggu di depan kamar kostnya.

“Ya deh,” kata Edison sembari menamcap gas dan berlalu dengan sekejap mata.

Tak berapa lama, sampailah Boy Satria di kamar kostnya dan terlihat Edison sudah menunggu di depan pintu kamar rumah kostnya.