Catatan Yal Aziz : Saya Ingin Sampai Mati Jadi Wartawan

SEBAGAI alumnus Fakultas Dakwah IAIN (UIN) Imam Bonjol Padang, Syahrial Aziz yang akrab disapa Yal Aziz memulai kariernya sebagai wartawan di Kota Palembang. Bahkan, bagi pria kelahiran, 12 April, 1960 di Kota Pekan Baru Provinsi Riau ini, dunia jurnalistik memang sudah menjadi pilihan hidupnya. Faktanya, sejak bergabung di Harian Sriwijaya Post grup Kompas Gramedia, 1988 lalu, Yal Aziz hingga kini, masih berkiprah sebagai seorang wartawan.

Sebenarnya banyak cerita dan pengalaman untuk dikenang ketika menjadi wartawan olahraga di harian Sriwijaya Post. Salah satunya ketika ditugaskan meliput berita Pekan Olahraga Nasional (PON) XII di Jakarta, dari 18 hingga 28 Oktober 1989.

Waktu itu, ada beberapa wartawan olahraga, yang bertugas di Persda Biro Jakarta untuk mensuplai semua berita nasional untuk Sriwijaya Post, Harian Surya di Surabaya, Serambi Indonesia, di Banda Aceh. Diantara wartawan olahraga Grup Kompas Gramedia, seperti Tatang Suherman, Drajad, Daryadi, Bram Bimantoro, Fiktor Syofyan adik aktor ternama Indonesia, Sopan Syafyan, dan wartawan asal Harian Singalang Padang, Hardimen Koto.

Kemudian sebelum menjadi redaktur olahraga di Sriwiajaya Post, 1991, bergabung dengan wartawan olahraga di Harian Kompas untuk belajar, tentang seluk beluk dunia olahraga. Waktu itulah berkenalan dengan Suryo Pratomo yang akrap disapa Tomy dan belajar meliput berita sepakbola. Kemudian, setiap hari diajak Tomy ke kantor PSSI di Gelora Senayan Jakarta, yang sekarang berganti nama menjadi Gelora Bung Karno.

Selanjutnya, ditugaskan untuk meliput berita SEA Games XVII, di Singapora, 1993 dan bergabung kembali dengan wartawan senior Harian Kompas. Pengalaman tersebut bisa dikatakan sebagai pengalaman pertama meliput pesta olahraga terakbar di Asia Tenggara.

Setelah mengundurkan diri dari Sripo dan Kompas Gramedia Grups, kembali kekampung halaman Kota Padang, Sumatera Barat. Kemudian menerbitkan mingguan Tabloid Bijak bersama Abdul Kadir Usman (almarhum) salah seorang pengacara kondang di Ranah Minang.

Suka dan duka sebagai pemimpin redaksi Tabloid Bijak, memang sempat membuat heboh Sumatera Barat dengan berita kegagalan Sumatera Barat di kancah Pekan Olahrana Nasional (PON), 2.000 yang diselenggarakan di Kota Surabaya Jawa Timur. Bahkan, kantor Tabloid Bijak diporak perandakan ratusan Mahasiswa IKIP dan sekarang menjadi Universitar Negeri Padang (UNP).

kemudian kejadian tersebut sekaligus menjadi catatan sejarah bagi pers nasional, karena tragedi tersebut diberitakan oleh berbagai media, seperti RCTI, SCTV dan TVRI. Begitu juga denga media cetak yang sangat berpengaruh saat itu, Harian Kompas, Republika dan Media Indonesia, termasuk media asing, Harian Bernama Malaysia, Kuala Lumpur.

Sebagai seorang wartawan di Grup Kompas Gramedia, anak Rang Pauhlimo Kota Padang ini lebih memilih bergabung di Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Sumatera Selatan. Bahkan, sebagai anak kolong, juga punya pengalaman menjadi Wakil Ketua Siwo Sumsel yang saat itu ketuanya wartawan TVRI Palembang, Sumsel, Khairul.

Khusus liputan olahraga, anak pesantren Thawalib Padang Panjang ini banyak berguru dengan wartawan senior Sumsel, Kurnati Abdullah yang juga mantan Ketua PWi Sumsel. Bahkan, pernah menjadi redaktur olahraga dan bekerjasama dengan Lucia Weny Ramdiastuti wartawati yang sangat terkenal dengan penampilan tomboinya.

Setelah era industri media cetak melemah, lebih menyibukan diri di dunia online dengan menerbitkan Tabloidbijak.com dan Padangpos.com. Bahkan, kini dipercaya menjadi Ketua Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Sumatera Barat, yang dilantik, oleh Teguh Sentosa, di Pangeran Hotel, Kota Padang, 23 Nov 2017 lalu.

Ajakan dan rayuan dari beberapa politisi untuk berkiprah dikancah politik, tak membuat Yal Aziz tertarik. Kenapa? Karena ingin sampai mati jadi wartawan.