Laporan Amiruddin : Perjalanan Studi Koperatif Wartawan Pariaman ke Jawa Timur (3)

Memasuki hari ke tiga, Minggu (17/12/2017)  rombongan Studi Komperatif Kominfo dan Wartawan Pemko Pariaman  berkunjung ke objek wisata Gunung Bromo Jawa Timur. Untuk sampai ke objek wisata itu, memang punya perjuangan yang melelahkan, disamping suhu daerahnya cukup dingin dan memiliki ketinggian 2.329 meter dari permukaan laut.
Untuk menuju Gunung Bromo, berangkat dari penginapan di Kota Probolinggo pada jam 24.00 Wib  dengan jarak tempuh lebih kurang 2 jam. Satu jam perjalanan berganti kendaraan dari Bus Wisata ke mobil jeep  yang mempunyai gardan ganda, jalannya berliku-liku  dan memunyai tanjakan yang tajam. 
Menurut  keterangan pemandu perjalanan Hanna, objek wisata Gunung Bromo, selalu ramai dikunjungi wisatawan, baik domestik atau pun  manca negara setiap harinya, apabila hari libur pengunjung, lebih ramai lagi  dari pada hari biasa, dikarenakan Gunung Bromo, sangat menarik untuk dikunjungi dan memiliki pesona yang luar biasa indahnya.
Tepat pukul 2.00 Wib dini hari, rombongan sampai di kaki Gunung Bromo dan istirahati di warung kopi, menunggu subuh datang, setelah shalat subuh, rombongan dan wisata lain mulai beranjak dari tempat duduknya dan berjalan kaki menaiki tangga  Gunung Bromo.
Objek wisata Bromo identik dengan kawahnya yang masih aktif dan tentunya kemilau sunrise dari view point puncak Penanjakan yang paling ditunggu-tunggu sejak malam / dini hari. Sebenarnya bukan hanya itu, di sana juga ada spot-spot menarik lainnya yang bisa kita  datangi, seperti Pasir Berbisik, Savana Teletubies, Lautan Pasir, Simpang Dingklik, Simpang (bukit) Kingkong, Bukit Cinta. 
Menurut Hanna untuk menyaksikan detik-detik munculnya matahari terbit (sunrise), para wisatawan berbondong-bondong menuju view point Penanjakan. Ada dua view point di kawasan Bromo yakni Penanjakan I (Desa Wonokitri – Pasuruan) dan II (Desa Seruni, Sukapura – Probolinggo). Penanjakan I merupakan view point populer yang biasa dituju para wisatawan untuk menyaksikan sunrise Bromo yang memukau itu. 
Sedangkan Penanjakan II meski letaknya lebih rendah dari Penanjakan I namun juga menjadi view point alternatif yang juga banyak didatangi para wisatawan. Bukit Cinta merupakan perbukitan atau dataran tinggi dimana di bukit ini para wisatawan juga bisa menikmati sunrise Bromo. 
Saat hari semakin terang, di bukit ini pula Gunung Bromo, Batok, Widodaren dengan latar belakang Semeru yang menjulang tinggi terlihat begitu indah. Konon kabarnya, Bukit Cinta ini dulu menjadi tempat Roro Anteng dan Joko Seger memadu cinta kasih, keduanya merupakan sosok yang diyakini masyarakat Hindu Tengger sebagai cikal-bakal tumbuh-kembangnya Suku Tengger seperti sekarang ini. 
Benar atau tidaknya keterangan itu penulis  sendiri tidak tahu persis. Yang pasti di dekat lokasi Bukit Cinta ini didirikan bangunan khusus untuk meletakkan berbagai sesaji. Kalau kita jeli, di banyak spot wisata di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru itu akan dengan mudah kita temukan sesaji berserakan karena memang sesaji merupakan bentuk persembahan kepada Sang Hyang Widhi Wase dan itu menjadi salah satu bagian dari ritual keagamaan masyarakat Hindu Tengger. 
Tepat pukul 5.30 pagi Hanna mengajak rombongan untuk turun dan naik kendaraan lagi melanjutkan perjalanan ke Kawah Bromo. Untuk mencapai Kawah Bromo itu sangat mudah sekali, dapat memulainya setelah melihat matahari terbit dari puncak penanjakan atau memulainya dari desa Cemoro lawang. Jika dari lokasi parkiran Jeep setelah menikmati matahari terbit, kita  cukup jalan kaki sekitar 2km menuju kawah gunung atau dengan menaiki kuda.
Sekitar pukul 10.00 Wib, rombongan sudah dikumpulkan kembali untuk menaiki bus wisata dan selanjutnya, melanjutkan perjalanan ke Surabaya dan tepat pukul 14.00 Wib, rombongan sampai di penginapan Hotel Ibis Surabaya. (penulis amiruddin wartawan tabloidbijak.com)