Ada Kapal ‘Titanic’ di Muaro Padang

Padang – Karya seni para pengrajin di Indonesia, merupakan salah satu yang terbaik dan unik di dunia. Salah satunya adalah, warga Kelurahan Batang Arau Kecamatan Padang Selatan yang membuat kerajinan miniatur kapal dari bahan baku pelepah salak.

Saat kami berkunjung ke rumahnya, Slamet Sureko tengah mengerjakan satu miniatur kapal ukuran dengan memasang pernak-pernik kapal. Proses pembuatan miniatur tersebut, bahan baku yang digunakan jenis pelepah salak yang sudah tua.

Alat yang digunakan juga terbilang sederhana, seperti, gunting kuku, golok, pisau silet/cutter, lem setan, tali nylon, paku atau bor kecil dari pelepah salak serta alat semprot (spray gun) untuk pelapis bambu dengan pernis. Sebelumnya kapur barus juga ditebar didalam miniatur kapal kecil tersebut agar binatang kecil tidak melapukkan kapal kecilnya.

Pengerjaan kerajinan miniatur kapal tersebut dilakukan bapak yang juga nelayan ini, mulai dari mencari bahan bambu, memotong dan membelah bambu, penjemuran sampai merakit hasil akhir.

Karya Slamet patut diajungi jempol, ketika melihat minitur kapal buatan Slamet. Mata dibuat takjub, dengan detail Slamet merakit pernak-pernik kapal mulai dari dek kapal, tiang layar hingga layarnya, pagar disekeliling kapal bahkan sampai ukuran anak tangga kecil sekalipun.

Sembari merakit miniatur kapal dari bambu dan memasang pernak-pernik kelengkapan miniatur kapal, Slamet mengatakan, miniatur kapal yang sedang dibuatnya, berukuran besar dengan panjang 50 Cm, lebar 10 Cm dan tinggi 30 Cm, sesuai pesanan.

Sambil mengerjakan kapal pesanan Lurah Batang Arau, Slamet bercerita bahwa ia merupakan mantan atlit nasional sejak tahun 1981 hingga membawanya menjadi pegawai PT Pos Indonesia.

Empat setengah tahun bekerja di PT Pos, Slamet dapat tawaran menjadi karyawan sebuah perusahaan pengerukan yang dibayar dengan dolar.

Ibarat gelombang Samudera Hindia, terkadang kehidupan Slamet cerah dan terkadang badai. Agak malu-malu Slamet bercerita kehidupan rumah tangganya mengalami kegagalan sebanyak dua kali.

Pada tahun 2000 kembali ke Padang dan menekuni kehidupan nelayan, yang sudah diarunginya sejak kecil. Selama 5 tahun ia menjalani hidup sebagai nelayan sambil menyambi menjadi pengrajin kapal dari pelepah salak.

Bahan baku pelepah salak tersebut diambil dari hutan Gunung Padang. Terkadang anak-anak sekitar diupahnya Rp.2.500,- per pelepah. Hingga tahun 2005, Slamet bertemu dengan jodohnya yang ketiga, seorang perempuan dari Solok. Bagi Slamet, istrinya ini mampu menerima dalam suka dan duka.

Harga kapal atau apapun bentuk pesanan pelanggannya bervariatif tapi ia mengutamakan keikhlasan pelanggan membayar karya seninya, jelasnya sambil menghisap rokok dalam-dalam.

Slamet juga memberitahukan bahwa karyanya sebuah miniatur kapal yang lumayan besar sudah dibawa Pokdarwis Gunung Padang untuk diserahkan pada Gubernur Sumbar.