Wakil Rektor III Diana Kartika : Viralnya Revila Oulina Kebanggan Bung Hatta Alumni Dikenal Dunia

TABLOIDBIJAK.COM (Padang)—Wakil Rektor III Universitas Bung Hatta Padang Prof. Dr. Dra. Diana Kartika, menanggapi viralnya berta Revila Oulina (Uni Vila) di media online (dunia maya) mengaku sangat kaget dan bangga serta senang sekali. Pasalnya, Vila alumni Bung Hatta Padang wisuda 1995.
Hal itu disampaikan Diana Kartika di ruang kerjanya, Senin (27/7/2020) didampingi Prodi Bahasa Dra. Ernati, M.Pd di Kampus I Bung Hatta Ulak Karang Padang.
Dikatakan, dengan viralnya berita Villa sangat mengembirakan kepada almamater Bung Hatta. Bahkan Diana Kartika, secara pribadi juga banyak menerima pesan melalui sms dan pesan lewat WahtsApp dari sejumlah kalangan pergurua tinggi di Indonesia.
“Tentu atas nama almamater dan pribadi ikut terharu dan bangga sekali punya alumni bisa dikenal di dunia, seperti Villa,” ujar Diana diamini Ernati.


Menurut Diana, Villa bisa dijadikan contoh oleh alumni Bung Hatta lain dan begitu juga oleh mahasiswa sedang menuntut imlu. Artinya, alumni Bung Hatta, bisa sejajar dengan tamatan alumni erguruan tnggi lain di Indonesia.
Lebih jauh disampaikan perempuan kelahiran Palembang ini, nama bik Bung Hatta langsung juga viral dengan viral alumninya. Kata Diana. Vila diharapkan dapat membantu juniornya. Bagi mahasiswa Bung Hatta, bisa juga mengikuti langkah Vila.
Alumni Bung Hatta sudah banyak berhasil baik dibidang swasta,begitu juga di pegawai negeri, umumnya, alumni Bung Hatta tidak ada menganggur, karena pekerjaan telah menunggu sebelum mereka tamat.
“Alumni Bung Hatta, ada juga menjadi kepala daerah, seperti bupati dan walikota. Menjadi kepala dinas, jangan disebut cukup banyak. Termasuk menjadi angkatan seperti Vila, juga sudah banyak. Tetapi yang viral memang Vila,” tukuk Ernati. .
Ditambahkan Ernati, Vila orangnya disiplin. Orang berpirilaku disiplin bagus dan berhasil dalam mencapai cita-citanya. Karkaternya juga baik. Vila juga orang taat beribadah. Apalagi Vila saat kuliah di Bung Hatta, sudah masuk dalam Menwa.
Revila Oulina, kelahiran 12 Mei 1972 di salah satu kampung di Padang Pariaman yang bernama Bukik Calik. Vila, mendaftar sebagai mahasiswa Bung Hatta 1990. Jurusan Vila, PBS Pendidikan Bahasa Inggeris.

Vila berhasil lulus dengan Yudisium sangat memuaskan dengan Ip UNC 2, 94. Sebagai dosen pembimbing, Dr. Mukhayar, M.Pd. Sebelum masuk Bung Hatta, Vila tamatan SPG 2 Padang. Orang tua perempuannya bernama Hj. Nursina bekerja sebagai pegawai negeri sipil (PNS). Orang tua Vila beralamat di Kampung Dalam Kabupaten Padang Pariaman.

MISI PBB DI SUDAN NEGERI TANPA AWAN.
Pada berita sebelumnya mengatakan, Revilla bersama 6 (enam) TNI lain pada 12 Juni 2017 diterima Duta Besar RI untuk Sudan dan Eritrea, Burhanuddin Badruzzaman. Mereka adalah Letkol Cpl Fanlik Efendi, Letkol Laut/P Awang Bawono, Mayor Pnb Arif Sujatmiko, Mayor Laut/P Irianto, Mayor Inf Patria, Mayor Mar Laili N.
Sudan disebut dengan negeri tanpa awan, karena selama bertugas di Sudan jarang dilihat ada awan yang ada hanya terik matahari di siang hari yang pansnya mencapai 45 derajat. Kalau pun ada hujan sangat jarang sekali, jangan harap 1 kali dalam sebulan. Tetapi hanya dua kali dalam setahun.
Untuk sampai ke Negara Sudan membutuhkan waktu 16 jam perjalanan. Negara Sudan juga disebut Kota Khourtum. Dari kota itu, melanjutkan lagi perjalanan dengan pesawat UN Flight, selama 2 jam penerbangan dari ibu Kota Sudan untuk sampai ke daerah misi HQElfasher.
Disebutkan lagi, dalam menjalankan tugas di HQ Elfasher itu, butuh penyesuaian diri, terutama lingkungan udara yang kurang bersahabat. Apabila siang hari pansnya minta ampun dan kalau malam dinginnya juga minta ampun. Tetapi karena tugas Revilla dapat melaluinya bersama orang-orang dari negara yang ditugaskan berasal dari berbagai negara belahan dunia dengan culture yang berbeda pula.
Villa juga berpesan kepada yang berminat ikut misi jangan takut atau kuatir, tidak akan ada teman, banyak sekali yang mau jadi teman. Dengan catatan, harus pandai bahasa asing, seperti english dan bahasa Arab.
Bahasa yang digunakan sehari-hari tanpa awan ini adalah bahasa Arab 95 parsen, masyarakatnya muslim, semua wanita Sudan yang dijumpai memakai busana muslim. Tetapi belum memakai hijab, mereka memakai selendang menutup kepalanya.
Demikian kisah Revilla Oulina, dari mengikuti misi PBB di Negara Sudan. Negara yang disebut tanpa awan. Semoga kisah ini dapat penyemangat bagi perempuan lain di Indonesia. Jangan merasa minder dengan prediket “padusi”, ucap Villa mengakhiri ceritanaya. (aa)