Catatan Yal Aziz: Hati-hati Memilih Calon Gubernur Sumbar

JIKA salah dalam mentukan pilihan terhadap seseorang untuk menjadi gubenur, tunggulah kehancuran. Kenapa? Karena setiap politisi dan birokrasi berhasrat ingin menjadi gubernur, tapi tidak semua politisi dan brokrat itu bisa menjadi gubernur yang baik.

Di alam demokrasi sekarang ini, masyarakat memang dihadapkan dengan banyak pilihan untuk menentukan sosok gubernur Sumbar. Diakui, persoalan pilihan kepada calon gubernur tersebut sangat tergatung dengan dukungan atau pilihan partai politik.

Tapi sejak undang-undang membolehkan calon gubernur independen, maka kewenangan partai menentukan calon gubernur, terbuka peluang bagi anak bangsa untuk maju melalui jalur independen. Di pilgub Sumbar muncul calon independen, yakni nama mantan Kapolda Sumbar Fahkrizal yang berpasangan dengan Walikota Pariaman, Genius Umar.

Sedangkan calon dari partai politik muncul nama anggota DPR RI Mulyadi yang juga Ketua Partai Demokrat Sumbar, Wakil Gubernur Sumbar, Nasrul Abit yang diusung Partai Gerindra dan Walikota Padang Mahyeldi yang bakal diusung Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Meskipun muncul nama kandidat lain, tapi tampaknya hanya tiga pasangan dari partai inilah yang diperkirakan bakal bertarung dan ditambah calon independen, yakni Fahkrizal. Klop 4 kandidat.

Kemudian sejak pandemi Covid-19 melanda Indonesia menyebabkan Pilkada Serentak 2020, yang semula akan digelar, 23 September 2020, bergeser menjadi Desember 2020, pasca pemerintah mengeluarkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu) Nomor 2 Tahun 2020, yang mengatur Pilkada 2020.kepada mmbahas calon gubernur Sumbar.

Diakui sejak beberapa bulan lalu, semua kandidat telah mempromosikan dirinya dengan berbagai cara dan gaya. Tujuannya tentu selain memperkenalkan dirinya, juga tebar pesona untuk menarik perhatian masyarakat pemegang hak suara di pemiilihan gubernur.

Kalau kita bicara peluang, keempat kandidat, Mulyadi, Nasrul Abit, Mahyeldi dan Fakhrizal sama punya peluang karena sama-sama berkualitas dan bahkan keempatnya bisa dikatakan anak bangsa dari Minangkabau yang berkualitas.

Mulyadi misalnya, seorang politisi yang telah teruji. Bahkan kepeduliannya terhadap Sumatera Barat telah terukur dengan keberhasilannya membahawa dana APBN ke Sumatera Barat.

Begitu juga Nasrul Abit yang sudah punya pengalaman di birokrasi, seperti menjadi wakil bupati Pessel mendampingi Darizal Basir dan dua kali berturut -turut jadi Bupati Pessel. Sukses lainya menjadi wakil Gubernur Sumbar mendampingi Irwan Prayitno diperiode kedua politisi PKS ini.

Sedangkan Mahyeldi, tak kalah hebatnya, setelah menjadi anggota DPRD Sumbar, berhasil dua periode jadi Walikota Padang dan sosoknya dikenal merakyat dan bersahaja.

Sementara Fakhrizal, selain mantan Kapolda Sumbar, anak rang Agam ini juga dikenal dengan sosok kapolda ninik mamak.

Kini pilihan tinggal dengan masyarakat Sumatera Barat. Kalau ingin Sumatera Barat maju dan masyarakatnya sejahtera pilihlah pemimpin yang tahu dan paham dengan agama dan adat istiadat. Siapa figurnya? Antahlah……(penulis wartawan tablidbijak.om)