Suryadi Halim Alias Tando yang Ditetap Tersangka KPK “Berkeliaran” di Kota Padang

TABLOIDBIJAK.COM (Padang)—–Kontraktor kondang Kota Padang, Suryadi Halim alias Tando yang ditetapkan jadi tersangka bersama sembilan kontraktor lainnya oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), disinyalir berkeliaran di Kota Padang.

Padahal, Suryadi Halim ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK, atas dugaan kongkalingkong proyek pembangunan di Kabupaten Bengkalis, Riau.

“Apa benar Suryadi Halim berkeliaraan di Kota Padang?,” kata Koordinator LSM Mamak, Drs Syahrial Azizi, begitu mendapat informasi dari rekan wartawan media mingguan terbitan Padang, yang minta jatidirinya tidak dituliskan.

Menurut wartawan tersebut, medianya lebih memilih sikap diam atau absen memberitakan masalah Suryadi Halim. Alasannya, karena pimpinan medianya berteman baik dengan Suryadi Halim. “Media lain silahkan saja menulisnya, tapi kami lebih memilih sikap diam, karena media lain pun sudah memberitakan persoalan Suryadi Hali,” katanya berdiplomasi.

Berdasarkan data Tabloidbijak.com, kesembilan yang ditetapkan KPK sebagai tersangka, M Nasir selaku mantan Kadis PU Bengkalis, Handoko selaku kontraktor, Melia Boentaran selaku kontraktor, Tirtha Ardhi Kazmi selaku pejabat pembuat komitmen, I Ketut Surbawa selaku kontraktor, etrus Edy Susanto selaku kontraktor, Didiet Hadianto selaku kontraktor, Firjan Taufa selaku kontraktor, dan Viktor Sitorus yang juga selaku kontraktor.

Kemudian, kesepuluh orang itu ditetapkan sebagai tersangka karena diduga melakukan tindak pidana korupsi di empat dari total paket proyek pembangunan jalan di Bengkalis, Riau. Keempat proyek tersebut adalah peningkatan Jalan Lingkar Bukit Batu-Siak Kecil, peningkatan Jalan Lingkar Pulau Bengkalis, pembangunan Jalan Lingkar Barat Duri, dan pembangunan Jalan Lingkar Timur Duri.

Berdasarkan hasil penghitungan sementara terhadap keempat proyek tersebut, diduga mengakibatkan kerugian keuangan negara kurang-lebih sebesar total Rp 475 miliar dan para tersangka dikenai Pasal 2 ayat (1) atau Pasal 3 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan atas Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

Sebelumnya KPK menetapkan empat orang tersangka, yakni Bupati Bengkalis Amril Mukminin, M Nasir, Direktur PT Mitra Bungo Abadi Makmur alias Aan, dan Hobby Siregar.
Selanjutnya M Nasir bersama Hobby Siregar dan Makmur ditetapkan sebagai tersangka dugaan korupsi proyek peningkatan jalan Batu Panjang-Pangkalan Nyirih, Bengkalis. Sedangkan Bupati Bengkalis Amril Mukminin sebagai tersangka kasus dugaan suap terkait proyek pembangunan jalan Duri-Sei Pakning di Kabupaten Bengkalis. Amril diduga menerima suap Rp 5,6 miliar.

Proyek jalan itu terdiri atas enam paket pekerjaan pada 2012 dengan total anggaran Rp 537,33 miliar. Amril diduga sempat menerima Rp 2,5 miliar untuk memuluskan anggaran proyek peningkatan jalan Duri-Sei Pakning multiyears tahun 2017-2019.

Sementara pengusaha kondang Kota Padang Suryadi Halim, sampai berita ini ditayangkan, masih belum berhasil dikonfirmasi. (dor)