Bgd. Armaidi Tanjung : Mahasiswa Harus Pahami Sejarah Perjuangan Bangsa Indonesia

TABLOIDBIJAK.COM (Kota Pariaman)—Mahasiswa sebagai calon pemimpin bangsa ke depan harus memahami sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Mahasiswa yang tidak memahami dengan baik sejarah perjuangan bangsa Indonesia akan mudah dimasuki pemikiran menggantikan bentuk dan dasar ideologi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Demikian diungkapkan Pendiri Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kota Pariaman Armaidi Tanjung, Minggu (26/1/2020) malam, saat tampil sebagai pemateri pada Masa Penerimaan Anggota Baru (Mapaba) PK PMII STIT Syekh Burhanuddin Pariaman.

Menurut Armaidi Tanjung, belajar dan memahami sejarah bangsa perjuangan Indonesia dimaksudkan agar tumbuhnya rasa nasionalisme dan memahami proses pendirian NKRI. Sehingga tidak mudah terpengaruh oleh kelompok dan pemikiran  tertentu yang ingin merubah bentuk dan dasar NKRI ini.

“Peran ulama dan santri dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia sangatlah strategis dan dominan. Penulisan sejarah yang diajarkan di sekolah umum cenderung mengabaikan peran ulama dan santri. Padahal tokoh ulama dan santri sangat berperan aktif dalam proses pembahasan dasar dan ideologi negara Indonesia,” kata Armaidi Tanjung penulis buku Sejarah Perjuangan Kemerdekaan Rakyat Padang Pariaman Dalam Perang Kemerdekaan 1945-1950.

Menurut Armaidi Tanjung, Presiden Soekarno usai memproklamirkan Kemerdekaan Indonesia mulai berpikir bagaimana cara menghadapi tentara NICA yang diboncengi Belanda untuk ingin kembali menguasai Indonesia. Indonesia yang baru saja merdeka belum memiliki pasukan tentara yang rapi dan bersenjata sebagaimana pasukan Belanda. Akhirnya Soekarno minta pendapat KH Hasyim Asy’ari bagaimana hukumnya membela tanah air, berjuang melawan tentara Belanda. KH Hasyim Asy’ari mengumpulkan para ulama di pulau Jawa dan Madura terkait dengan pertanyaan Soekarno tersebut.

“Dari pertemuan ulama tersebut, KH Hasyim Asy’ari pada 22 Oktober 1945 mengeluarkan Resolusi Jihad. Isinya kewajiban berjuang melawan tentara kolonial Belanda. Perjuangan mempertahankan tanah air dari serangan musuh merupakan jihad. Resolusi jihad tersebut yang menyemangati serangan 10 Nopember 1945 melawan jenderal dan tentara NICA (Belanda). Serangan ini berlangsung seru dan berhasil menguasai Kota Surabaya beberapa jam. Serangan tersebut mengejutkan dunia, karena Indonesia mampu melakukan perlawanan,” kata Armaidi Tanjung.

Dari peristiwa 10 Nopember 1945 tersebut, setiap tahun diperingati sebagai hari Pahlawan. Namun peristiwa lahirnya Resolusi Jihad 22 Oktober 1945, nyaris dilupakan begitu saja. Barulah pada pemerintahan Presiden Joko Widodo pengakuan terhadap Resolusi Jihad tersebut lahir dengan peringatan hari Santri. “Hingga kini setiap 22 Oktober dilakukan peringatan Hari Santri. Hal ini menunjukkan peran ulama dan santri dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia sudah diakui,” tutur Armaidi menambahkan.(rel.aa)