PT Asiaco Batam Indonesia Terima Jahitan Masyarakat Sawahlunto

TABLOIDBIJAK.COM(SAWAHLUNTO)—–PT Asiaco Batam Indonesia (ABI) sebuah perusahaan konveksi terkemuka di Batam membuka cabang di Kota Sawahlunto.

Kehadiran PT ABI di Sawahlunto membuka kesempatan kerja yang seluas luasnya bagi masyarakat Sawahlunto untuk mendapatkan penghasilan tambahan dari usaha menjahit rumahan.

“Ini merupakan bentuk nyata dari program ekonomi kerakyatan yang kita kembangkan dalam rangka meningkatkan perekonomian masyarakat,” ujar Walikota Sawahlunto Deri Asta dalam acara persemian beroperasinya PT ABI di Sawahlunto bertempat di rumah Dasrat Talawi, Selasa (21/1).

PT ABI bekerja sama dengan Pemko Sawahlunto dalam memproduksi pakaian jadi dengan memberdayakan masyarakat sebagai tenaga kerja atau penjahit rumahan .

Walikota Deri Asta mengatakan, PT ABI menyuplai bahan dasar pakaian dan bertanggung jawab dengan pemasaran, sementara Pemko Sawahlunto menyediakan mesin jahit dan tenaga kerja untuk menjahit. Masyarakat kemudian mendapatkan upah yang dibayarkan setiap bulan oleh perusahaan.

” Usaha menjahit ini dapat dikerjakan sebagai usaha sampingan dirumah. Kita telah membekali masyarakat dengan memberikan pelatihan menjahit di desa dan kelurahan beberapa waktu lalu,” tambah Deri

Pemko telah membekali sebanyak 230 ibu rumah tangga dengan keterampilan menjahit konveksi. Namun dari program tersebut, menurut Deri Asta tidak akan 100 persen berhasil.

” Kita berharap dari 230 orang tersebut 50 – 60 persen-nya dapat menghasilkan uang sebagai tambahan penghasilan masyarakat dari usaha menjahit rumahan ini,” jelas Deri Asta

Kehadiran PT ABI membuka cabangnya di Sawahlunto bermula dari pertemuan Direktur PT ABI, Doni Hendra dengan Walikota Deri Asta di Batam.

Deri Asta mengatakan Doni Hendra merupakan Adik teman satu angkatannya, sehingga komunikasi menjadi sangat baik. Dijelaskan Deri, PT ABI diketahui awalnya membutuhkan tenaga kerja menjahit sebanyak 400 orang.

Namun pekerja menjahit tersebut tidak mungkin di rekrut di Batam melainkan di daerah daerah, sehingga Sawahlunto menjadi salah satu daerah sentra produksi konveksi.

” Lebih dari satu tahun kita menyiapkan program ini supaya bisa berjalan. Kita bekerja sama dengan pemerintah desa dan kelurahan serta perusahaan tambang khusunya dalam CSR pengadaan mesin jahit,” ungkap Deri

Doni Hendra, Direktur PT ABI mengatakan pihaknya harus memenuhi permintaan pasar sebanyak 20 ribu pcs. Ia mengatakan pihaknya sudah melakukan pemotongan kain dan sudah bisa diambil oleh peserta pelatihan yang telah mahir menjahit

Sementara yang belum mahir, ia minta untuk terus berlatih, sehingga bisa menghasilkan produk konveksi yang sesuai dengan kualitas yang diinginkan perusahaan.

Pengusaha dari Batusangkar itu mengatakan, pihaknya terus mendukung penjahit pemula untuk bisa berproduksi dengan menyediakan bahan untuk berlatih.

Ia berharap semua warga Sawahlunto yang telah dilatih, nantinya dapat menjadi agen produksi perusahaannya, karena ia mengaku harus mengejar target produksi. Apalagi saat ini pihaknya tengah memperluas target pemasaran, sehingga membutuhkan tambahan tenaga kerja yang lebih banyak.

“Peluang pasar konveksi terbuka lebar, karena itu saya membuka kesempatan seluas-luasnya bagi Sawahlunto untuk menjadi sentra produksi. Jika masih banyak yang berminat, kami siap mendatangkan instruktur untuk membekali skill” ujar Doni Hendra

Doni menjelaskan, perusahaannya akan membayar upah pekerja berdasarkan produktifitas. Untuk produksi wearpack perusahaan membayar Rp 23.000 / pcs dan jacket Rp 16.000/pcs.

“Mulai besok 22 Januari, kain sudah bisa diambil dan tanggal 22 Februari, pekerja sudah bisa menerima upahnya” ujar Doni.

Perusahaan konveksi yang didirikannya telah 10 tahun berdiri ini setiap tahunnya memproduksi lebih dari 20.000 pcs produk konveksi berupa seragam kerja. Saat ini perusahaan ini juga memperluas pasar dengan melayani permintaan konveksi berupa jaket kemeja dan lainnya.

Walikota Deri Asta menyayangkan belum semua Desa dan Lurah mendukung program produktifitas masyarakat ini. Ia berharap semua Kepala Desa dan Lurah menyambut peluang ini dengan mendukung melalui anggaran Desa dan mendorong masyarakat menjadi agen produksi.