Kafe di Kota Rendang Payakumbuh Menimbulkan Polemik

TABLOIDBIJAK.COM (Payakumuh)—–Keberadaan Kafe di Kota Payakumbuh  tempat ngopdar (ngopi darat) biasa dijadikan tempat nongkrong, bercengkrama, reunian dan lain lain, kini berfungsi sebagai tempat transaksi ‘kupu kupu malam” yang berkedok sebagai pelayan cafe.

Padahal, kota Payakumbuh, dirancang jadi kota Rendang itu merupakan kota yang menjunjung tinggi adat istiadat karena mengacu pada adat bersandi syarak, syarak bersandi kitabullah (ABS-SBK), kini semakin tergerus moderenisasi dan liberalis, dinilai telah melabrak hukum agama dan adat istiadat.

Pemandangan yang meprihatinkan itu beberapa kali yang terekam oleh tim media yang tergabung dalam SPRI (Serikat Pers Republik Indonesia) Luak Limopuluah (Kota Payakumbuh dan 50 Kota) yang mendatangi beberapa Kafe, juga Beranda Coffee Shop yang berlokasi di Kelurahan Balai Panjang Kec.Payakumbuh Barat ( persis didepan kanan Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga- red) di kota Randang dengan niat melepas kejenuhan dalam rutinitas, mendapatkan pemandangan diluar izin yang diperoleh dari pihak terkait.

Kita (SPRI) memesan minuman dan diantar oleh pelayan yang bisa dibilang sexy ini, kami bercerita panjang lebar, tertawa, dan hal yang janggal mulai terlihat, semakin malam ‘Kupu-kupu malam ” mulai banyak berdatangan dan mengisi meja – meja yang ada di cafe. Bahkan ramai didatangi dari luar kota, Bukittinggi dan Padang Panjang.

Berdasarkan investigasi wartawan dari masyarakat Payakumbuh di Balai Panjang, Risdi (47), Minggu (12/1), beberapa Kafe di Payakumbuh masih menyediakan fasilitas karaoke dengan minuman beralkohol, bahkan ada yang campuran tidak sesuai takarannya dan banyak pengunjung yang datang kesana dari berbagai kalangan, ada pengusaha, pejabat dan umum.

Sebagian dari masyarakat Payakumbuh berharap Pemerintah Kota bisa tertibkan dan mengingatkan kepada pemilik Kafe yang dinilai Pekat itu. Jangan sampai persepsi masyarakat menilai karena ada beberapa Kafe yang dinilai milik penguasa dan orang dekat Pemerintah.

Hal ini perlu diperhatikan Pemko Payakumbuh untuk menindak dan menertibkan Kafe-kafe tempat transaksi ‘kupu-kupu malam tersebut, hal tersebut bisa menghindari hal- hal yang tidak di ingini, pinta Jml Dt. Gindo Marajo, seorang tokoh masyarakat

Adanya laporan dari masyarakat bahwa, aktifitas transaksi protitusi di kota Randang, kian meraja lela dengan para wanita kupu-kupu malam. Hasilnya, Satpol PP sebagai penegak perda terkesan tutup mata.

Sementara itu, Kasatpol PP Payakumbuh, Devitra, mengatakan via selulernya, menjawab, “Pemilik Kafe sudah dipanggil melalui rapat di kantor camat payakumbuh Selatan yang juga kami hadiri, ungkapnya

Ditambahkan, rapat tersebut dihadiri oleh Camat, Lurah, RT, RW dan Ninik Mamak dan Tokoh Masyarakat. Waktu itu yang bersangkutan membuat perjanjian bersedia mematuhi peraturan yang berlaku.

Pemko melalui Satpol PP sudah sering melakukan pengawasan dan razia ke lokasi. Pemilik sudah diberi Surat Peringatan kembali, kata Devitra. Tapi apa lacur ( JND)