Catatan Yal Aziz: Hebat Cafe di Kota Padang Ajang Maksiat yang Kian Menggeliat

UNGKAPAN Adat Basandi Syarak dan Syarak Basandi Kitabullah, sudah bagaikan omongan kosong para petinggi di Ranah Minang. Kenapa? Karena kian menjamurnya keberadaan cafe-cafe yang menjadi tempat transaksinya para wanita malam alias perek atau lonte. Tragis memang, tapi itulah faktanya.

Bagi pria yang suka kencan dengan lonte, datanglah ke Kawasan Pondok dan so pasti akan terlihat lampu klap klip di tempat ajang maksiat tersebut. Yang hebatnya lagi, bisnis kafe maksiat tersebut, menjadi lahan atau ladang bagi germo dan lonte dalam mencari pria hidung belang yang suka menikmati tubuh lonte.

Berdasarkan tulisan Novri Investigasi, dari banyaknya kafe baru di Kota Padang, Kafe Classic menjadi primadona. Malam hari cewek berpakaian seksi, lewat melalui bengkel sebelah Kafe Classic dan tembus dibelakang kafe Classic, tempat mereka stay menunggu tamu. Puluhan cewek seksi berwajah manis, berparas cantik, merayu setiap tamu yang datang. Bahkan, godaan manja menonjolkan dada dan paha menjadi senjata meleburkan perasaan tamu.

Kemudian Kafe besar tergolong baru dan juga primadona bagi penghunjung Puppy Happy didepan Kafe All Star dan Fantasi. Meski izinnya diragukan, sebab kurang radius 200 meter dari Mesjid Nurul Iman, namun tetap dipadati penghunjung. Biasanya disini ceweknya freeland atau panggilan. Termasuk juga Ampidos, muncul dua tahun belakangan dan Cabang dari Kafe Dhamarus.

Kafe baru yang banyak penghunjung dan serbuan anak malam, Kafe MP didepan Taman Melati berdekatan dengan Kafe Brown dan Tee Box. Kafe Denai dan Kafe Cindi, juga termasuk baru. Khusus Kafe Cindi disebelah Kafe Persik, cabang dari Kafe Cindi didekat Matahari lama. Dan, kafe Cindi ini ada orang kuat dibelakangnya.

Dan, masih banyak kafe baru lainnya, melengkapi keberadaan kafe lama, seperti Kafe Denhot, Golden Simpang Haru dan depan Kantor Pos. Kafe Millenium, Pelangi, Monic (Starnek), Berlian, 55, 25, 29, Cherly, Juliet, Diva, Pelangi, Grande. Kafe Dhamarus, termasuk kafe yang berkembang pesat. Membuka dua cabang, Ampidos dan Dhamarus belakang. Ampidos dan Dhamarus belakang juga disajikan DJ sampai jam 4 pagi.

Bayangkan saja, menjamurnya kafe di Kota Padang, juga seiring meruyaknya jumlah anak malam. Baik berasal dari Sumatera, maupun provinsi lain. Ada sebagian mereka, disamping melayani tamu karaoke, juga melayani tamu melepaskan nafsunya. Jumlah anak malam mencapai ratusan orang diberbagai kafe dan ini membuktikan Kota Padang menjadi primadona bagi anak malam. Itupun belum termasuk mereka yang bekerja ditempat lain dengan modus sama, maksiat berbungkus bisnis hiburan.

Jujur, fakta ini jelas menohok masyarakat Kota Padang dan orang Minang. Apapun dalihnya, jelas keberadaan kafe ini, telah merusak mental atau kepribadian generasi muda di Kota Padang dan Ranah Minang.

Kini tentu kita tinggal menunggu keberanian dari petinggi di Kota Padang untuk membrangus ajang maksiat ini. Yang jelas, keinginan tokoh masyarakat di kawasan pondok sudah menyurati petinggi kepolisian sebulan yang lalu, Tapi hasilnya masih saja nihil. Tampaknya para germonya dan pemilik kafe, the best.