Mastilizal Aye : Jangan Salahkan Pemko Jika Banjir

PADANG – Jika hujan turun, jalanan di Kota Padang, Sumatera Barat (Sumbar), terbilang memprihatinkan. Diguyur hujan sebentar saja, genangan air akan menutupi sejumlah titik jalan di ibu kota Sumbar itu.

Anggota DPRD Kota Padang Mastilizal Aye dari Fraksi Gerindra turut menganalisis dan sumbang saran untuk mengatasi masalah banjir tersebut. Aye menolak eksekutif disebut gagal mengatasi banjir, sebab sudah ada upaya keras yang dilakukan.

“Dari sisi usaha, bukan saya membela Pemko Padang, realitanya ada dilakukan untuk penanganan. Itu tak bisa disalahkan pemerintah kalau masalah banjir. Sifat air kan memang selalu mengisi tempat rendah. Yang paling rendah dulu diisinya gitu. Kedua kan sesuatu itu ada penyebabnya.

“Pendapat saya lebih ke penanganan masalah. Cari akarnya apa. Setelah dapat, akar masalahnya kita diskusi, teknokrat, akademisi, orang-orang teknik setelah masalah itu terdeteksi,” kata Ketua Badan Kehormatan DPRD Kota Padang saat berbincang, Senin (2/12/2019) di lobi Gedung Bundar Sawahan 50 Padang.

Menurutnya, perlu ada anggaran khusus dengan jumlah besar untuk mengatasi banjir di Kota Padang. Dia juga menilai sisi legislasi soal penanganan banjir perlu diperkuat.

“Kita juga harus ke masyarakat. Ada Perda tentang sampah, maunya dibuat Perwal (Peraturan Wali Kota, red). Harusnya di Perwal-kan biar bisa dieksekusi. Masyarakat juga harus gayung bersambut. Jangan buang sampah sembarangan tempat, tolonglah pengertian semua pihak,” pintanya.

Lebih jauh, Aye menyorot prilaku masyarakat Padang yang bisa berakibat pada terjadinya banjir. Dia juga menilai ada kesalahan konstruksi jalan.

“Kalau kita lihat konstruksi jalan dan pendestrian di Kota Padang, trotoar di atas, jalan di bawah. Acap kali masyarakat buat rumah lebih tinggi dari jalan, itu wajar, takut dia banjir. Tapi konstruksi jalan ini tak seimbang kelihatannya. Tak ada dibuat kayak miring ke kiri di jalur kiri, miring ke kanan di jalur kanan supaya air mengalir ke saluran inlet.

Kadang inlet itu terhambat sampah, tanah krikil, kembali lagi, tolong pengertian seluruh masyarakat kita, hidup saling membutuhkan. Tolonglah didengar pemerintah untuk hal yang baik, kita beragama, kebersihan sebagian dari iman, itu diterapkanlah dalam keseharian,” ujarnya panjang lebar.

Sarannya, perlu ada gerak cepat dari petugas kebersihan untuk membersihkan sampah yang menghalangi jalan air. Dihidupkan kembali semangat gotong royong dari warga RT dan RW setempat serta memasukkan program drainase ini pada rakorbang tahun 2020.

“Beberapa kecamatan di Padang selalu menjadi langganan banjir. Makanya salah satu program Pemko Padang dapat lebih cepat dalam membersihkan drainase yang sudah tersumbat dan menumpuk lumpur yang mengakibatkan drainase jadi dangkal. Dengan komunikasi yang baik, maka permasalahan di semua tempat jadi harus diperbaiki polanya. Jangan hanya membangun tapi juga memelihara,” ulasnya.

Sebelumnya diberitakan Kompleks Perumahan Permata Surau Gadang (PSG), Kecamatan Nanggalo, Kota Padang kembali kebanjiran dalam sepekan terakhir. Bahkan, air yang merendam badan jalan dan nyaris memasuki rumah itu juga membawa sampah kiriman dari hulu.

Warga dan anak-anak sekolah sering terganggu ketika ingin pergi kerja dan sekolah ke luar kompleks. Jalan utama yang sebagian sudah beraspal dan blok kompleks yang belum lama dibetonisasi itu terus tergerus.

Kondisi tersebut semakin parah dirasakan ratusan warga Permata Surau Gadang sejak beberapa tahun terakhir. Dalam dua tahun terakhir aliran debit air makin besar dan deras. Air yang memicu banjir itu berasal dari Irigasi Sawah Lua yang tidak tertampung oleh drainase kompleks yang kecil.

“Sementara saluran pembuangan tidak terhubung dengan saluran yang menuju Batang Kuranji,” ujar Ketua RT 07 Kompleks Permata Surau Gadang, Husni Jamal, kemarin.

Menurut Husni, sebagian jalan yang telah beraspal mulai rusak dan jika tidak diatasi oleh pemko akan hancur. Begitu pula gang-gang kompleks yang belum lama ini selesai dibetonisasi Pemko.

Kondisi semakin memprihatinkan karena aliran air dari irigasi itu juga membawa sampah kiriman dalam jumlah besar. Sampah tersebut sering tersangkut di sepanjang drainase kompleks sehingga aliran air tersumbat.

“Warga di sini tidak ada yang membuang sampah sembarangan ke drainase. Sampah tersebut dibawa aliran air dari hulu dan membuat risiko banjir semakin tinggi.”

“Warga kompleks bukan tidak berupaya mengatasi masalah tersebut. Hampir setiap minggu warga goro membersihkan, tapi karena volume air dan sampah terlalu besar, upaya tersebut tidak efektif,” jelas Husni.

Oleh karena itu, dia meminta Pemko melakukan upaya percepatan perbaikan dalam pengelolaan saluran irigasi dan memperbesar drainase serta pengendalian sampah kiriman dari hulu.

“Perlu penanganan di hulu dan hilir. Jika itu dilakukan, kami yakin persoalan banjir disertai sampah kiriman tersebut bisa diatasi. Apalagi kita tahu Padang merupakan kota yang meraih Adipura. Tentu ini jadi skala prioritas,” katanya didampingi Sekretaris RT Zulfahmi.

Salah seorang warga Hendra Efison menambahkan, saat kompleknya tidak hujan, banjir juga melanda dan sampah kiriman berserakan sampai di depan rumah karena ketika itu hujan di hulu.

“Anak-anak di sini juga rawan terserang penyakit karena saat itu mereka bermain di tengah banjir yang bercampur sampah,” ujar wartawan senior ini.

Persoalan tersebut sudah disampaikan Ketua RT serta warga ke pihak kecamatan dan dinas terkait di Pemko Padang. Sejauh ini, Camat dan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Pemko Padang sudah merespons dan katanya telah menurunkan tim ke kompleks untuk perencanaan penanganannya.

Sebelumnya juga ada datang mobil Dinas Lingkungan Hidup untuk mengangkut sampah tersebut. “Secara resmi, kami juga sudah bikin surat yang ditujukan ke Wali Kota agar bisa ditindaklanjuti sehingga derita warga tidak berlarut-larut. Semoga bisa direalisasikan tahun 2020,” jelas Husni.

Selain warga, petani yang memiliki lahan persawahan dekat kompleks tersebut juga mengeluhkan banyaknya sampah plastik hingga bangkai binatang yang memenuhi areal sawah saat hujan turun.

Seperti diungkapkan Mak Uniang, salah seorang petani yang tergabung dalam Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Sarumpun Boneh yang berada di Kelurahan Surau Gadang, Kecamatan Nanggalo.

“Kini sudah memasuki musim penghujan. Setiap kali hujan, sampah kiriman terus menggunung di pintu aia (pintu irigasi-red). Jika hujan lebat turun lagi dan pintu air akan dibuka, akan membuat sampah-sampah itu ikut hanyut memenuhi sawah hingga saluran di pemukiman,” ungkap Mak Uniang.

Gapoktan Sarumpun Boneh ini memiliki hamparan sawah seluas 73 hektare lebih dengan anggota 104 orang. Areal persawahan ini membentang mulai dari Kalumbuk (kecamatan Kuranji), Gurun Laweh dan Surau Gadang (kecamatan Nanggalo) hingga Bawah Asam Sungai Sapiah (kecamatan Kuranji).

“Plastik saja isi tali banda. Kadang, ada juga ditemukan bangkai binatang,” ungkap Burman, pensiunan TNI putra setempat, yang kini jadi petani di Surau Gadang.

Tumpukan sampah ini ditemukannya saat membersihkan tali banda menuju tiga petak sawahnya yang bersebelahan dengan Kompleks Permata Surau Gadang.

Ia berharap persoalan ini segera diatasi pemko sehingga tidak lagi mengganggu aktivitas warga dan petani di Surau Gadang.

Sebagai wakil rakyat dari daerah pemilihan Nanggalo, Padang Barat dan Padang Utara, Mastilizal Aye akan koordinasi dengan Camat Nanggalo dan pihak terkait mengatasi masalah ini.

Masyarakat bisa menyurati DPRD Kota Padang terkait permasalahan tersebut. Dan pimpinan DPRD akan merekomendasikan pada komisi terkait untuk memanggil dinas bersangkutan. Bersama stakeholder terkait, kita duduk bersama mencarikan solusinya.