Catatan Yal Aziz: Porwil X Bengkulu Bagi Atlet Sumbar Antara Prestasi dan Harga Diri

PEKAN Olahraga Wilayah (Porwil) Sumatera X, akan digelar, 3-9 Oktober, 2019 di Kota Bengkulu, Provinsi Bengkulu. Porwil sebagai ajang bergensi untuk wilayah Sumatera mempertandingkan 11 Cabang Olahraga (Cabor) dan 171 nomor pertandingan. Adapun 11 Cabor yang akan dipertandingkan itu, atletik, renang, bulu tangkis, biliar, sepakbola, catur, panjat tebing, kempo, bola volly, tinju dan muaythai.

Kemudian logo dan maskot Porwil X Sumatera 2019 di Bengkulu, diberinama Dang Du, yang merupakan fauna asli Bengkulu, yakni Beruang Madu. Dipilihnya beruang madu sebagai maskot Porwil X Sumatera, untuk mengangkat kearifan lokal Bumi Rafflesia serta mengenalkan fauna endemik Provinsi Bengkulu.

Kontingen Sumatera Barat yang keberangkatannya dilepas Wakil Gubernur Nasrul Abit, berkekuatan, 169 atlet, 42 pelatih dan katanya 62 pengurus KONI dan jajarannya. Targetnya, tiga besar alias peringkat ketiga.

Sementara di Porwil IX Bangka-Belitung, 2015 lalu, kontingen Sumbar hanya berhasil mendulang, 20 emas, 20 perak dan 26 perunggu dengan posisi keempat. Jadi wajar saja jika KONI Sumbar mematok target tiga besar.

Jika kita berbicara sejarah Porwil IX di Bangka-Belitung, 2015 lalu, Provinsi Riau keluar sebagai juara umum pertama. Posisi kedua ditempati kontingen Sumatera Selatan dan disusul kontingen Sumatera Utara di posisi ketiga.

Lantas timbul pertanyaan, apakah mungkin Sumbar bisa berada diurutan ketiga? Jawabnnya bisa iya dan bisa juga tidak. Tapi rasanya, peluang Sumbar untuk meraih peringkat ketiga sulit. Kenapa? Karena dari 11 cabang yang dipertandingfkan, hanya ada dua cabang yang terukur, yakni renang dan atletik.

Persoalan lainya, terjadinya perkelahian antara Wakil Ketua KONI dengan Kepala Bidang Olahraga Dinas Pemuda dan Olahraga Sumatera Barat. Fakta memalukan ini, setidaknya ada persoalan yang “tak jelas” di tubuh KONI.

Yang tak kalah pentingnya, kurang harmonisnya hubungan antara pengurus cabang olahraga provinsi dengan KONI. Persoalan hubungan ini, sudah bisa dikatakan bagaikan api dalam sekam. Pokoknya, semenjak sarjana olahraga menarik diri dari kepengurusan KONI Sumbar, dengan aturan yang tak jelas dan tegas, sejak itu pulalah hubungan antara pengprov cabor dengan pengurus KONI kurang harmonis.

Tanpa bermaksud melecehkan kepengurusan KONI sekarang, yang jelas diantara mereka tak punya latar belakang atlet berprestasi dan hanya punya pengalaman di organisasi cabang olahraga dan diberbagai organisasi kemasyarakat. Prestasi mereka di cabang olahraga pun tak pula hebat dan dahsyat. Ya hanya bisa dikatakan sekedar panjawek tanyo.

KINI, nama baik kepengurusan KONI sekarang dipertaruhkan di Porwil X Bengkulu, dengan jawaban prestasi untuk harga diri. Semoga?