Catatan Yal Aziz: Yok Berladang Dipunggung Atlet

TAMPAKNYA, jadi pengurus KONI enak banget. Selain banyak pergaulan dan hobi tersalurkan, juo dapek kepeng lo lai. Caronyo, bapandai-pandai membuat anggaran dengan dalih untuk atlet, pelatih dan prestasi.

Untuk itu, wajar saja jika ada diantara pialang-pialang politik yang gagal dipartai dan jadi anggota dewan terhormat, ramai-ramai menjadi pengurus KONI. Faktanya, coba lihat biodata para pengurus KONI tersebut. Lihat rekam jejaknya.

Kemudian, dari sisi prestasi, para pengurus KONI itupun tak ada apa-apanya. Bahkan bisa dikatakan, umumnya mereka menyibukan diri jadi pengurus cabang olahraga, karena tak ada kegiatan yang pasti untuk dapek kepeng. Jadi wajarlah, kalau tujuannya itu pulus alias kepeng.

Tapi kini, sejak negara ini dipimpin Jokowi, kebiasaan jelek para pengurus KONI itu tak bisa dimainkan lagi. Maksudnya, ada dinas pemuda dan olahraga yang membahas setiap ada pengajuan anggaran dari petinggi KONI. Jadi, dinas pemuda dan olahraga, juga melakukan evaluasi, apakah anggaran yang diusulkan KONI itu wajar atau layak.dicairkan.

Berdasarkan berita Tabloidbijak.om;”Wakil Gubernur Sumatera Barat Nasrul Abit melepas duta olahraga terbaik menuju medan laga Pekan Olahraga Wilayah (PORWIL) ke X tahun 2019 di Provinsi Bengkulu dengan memberangkatkan 169 atlet serta 42 pelatih yang terbagi pada 11 cabor. Sebanyak 7 bus dipersiapkan panitia Kontingen Porwil membawa mereka ke Bengkulu melalui jalan darat.”

Dari berita itu bisa kita lihat, jumlah pelatih yang berangkat cuma 42 dari 11 cabang olahraga. Tapi kenapa kok pengurus KONI 69 orang sebagaimana diberitakan Kompas.com. Yang hebat dan anehnya lagi, uang saku atlet Rp 1,500.000 dan pengurus KONI Rp 4.800.000. Fakta ini bisa dikatakan, memalukan dan memilukan.

KINI kita berharap kepada gubernur dan wakil gubenur untuk realitis melihat persoalan ini. Termasuk melihat perkelahian antara personil dispora dengan petinggi KONI. Semoga!!!!