Catatan Yal Aziz: Cakak Saat Pelepasan Kontingen Sumbar ke Porwil Bengkulu Memalukan

TRAGEDI adu jotos alias bacakak di nan rami yang diperagakan dua petinggi olahraga Sumatera Barat Ranah Minang, Rasyid Sumetri Kabid olahraga dispora dengan Fajril Ale Waketum II KONI Sumbar, merupakan perbuatan tak bermoral alias memalukan insan olahraga.

Terlepaslah dari mana yang benar dan mana yang salah, yang jelas tragedi tersebut tak pantas diperagakan dua petinggi olahraga Ranah Minang, yang harus paham dan mengerti jo nan ampek. Berdasarkan data dan fakta, keduanya sama-sama berdarah Minang.

Kemudian, tragedi yang mencoreng wajah olahraga Ranah Minang, Jumat, 25 Oktober, 2019 malam di Audotorium Kantor Gubernur Sumatera Barat tersebut, harus diselesaikan, baik secara adat maupun secara hukum. Bisa jadi juga dengan mendamaikan kedua pinggi olahraga tersebut secara terbuka didepan publik insan olahraga, terutama yang menyaksikan langsung adengan yang memalukan tersebut. Kenapa? Karena Bagi orang Minang, tak ada kusut yang tak terselesaikan.

Sebagaimana diketahui, Pekan Olahraga Wilayah (Porwil) Sumatera, merupakan tolak ukur prestasi atlet yang dipersiapkan menghadapi Pekan Olahraga Nasional (PON) Papua. Untuk itu, persiapan atlet dan dana, haruslah tak menjadi persoalan lagi. Sebab, anggaran biaya memang menjadi tanggungjawab pemerintah Sumatera Barat, alias menjadi tanggungjawab Gubernur dan Wakil Gubernur bersama anggota dewan yang terhormat di DPRD Sumbar.

Jadi, keberhasilan atlet dan kontingen Sumatera Barat di Porwil Bengkulu, sangat ditentukan juga dengan persiapan atlet dan dukungan dana dari KONI Sumbar yang menjadi perpanjagan tangan pemerintah. Hebat pun atlet, kalau tak didukung dana yang memadai, hasilnya so pasti akan mengecewakan.

Kini mumpung masih ada hari dan waktu persiapan menjelang berlaga di arena Porwil, ada baiknya semua perpedaan pendapat dan pikiran disatukan demi prestasi olahraga Sumatera Barat dikancah olahraga Sumatera. Kegagalan kontingen di Porwil, juga bisa dikatakan kegagalan masyarakat Minang, Sumatera Barat. Ingat tragedi PON Jawa Timur, tahun 2000. Tragis dan memalukan, karena jadi juru kunci karena tak satu pun atlet yang berhasil meraih medali emas. Bahkan, gagal di PON Jawa Timur, berhasil memporakperandakan kantor Tabloid Bijak. Semoga sejarah hitam kelam ini tak terjadi lagi.