Catatan Yal Aziz: Perlu Keseriusan Menggarap Objek Wisata Danau Biru Sawahlunto

SEBAGAI Kota tua yang berduya, Kota Sawahlunto merupakan salah satu kota di provinsi Sumatra Barat, Indonesia, yang punya potensi objek wisata. Secara geografis, Kota yang terletak 95 KM sebelah timur laut kota Padang ini, dikelilingi oleh 3 kabupaten di Sumatra Barat, yaitu kabupaten Tanah Datar, kabupaten Solok, dan kabupaten Sijunjung. Kota Sawahlunto memiliki luas 273,45 km² yang terdiri dari 4 kecamatan dengan jumlah penduduk lebih dari sekitar 56.812 jiwa. Pada masa pemerintah Hindia Belanda, Kota Sawalunto dikenal sebagai kota tambang batu bara. Namun geliat pembangunan di kota ini melesu, setelah penambangan batu bara dihentikan.

Secara histroris, 10 Maret 1949 diadakan rapat dengan hasilnya Daerah Afdeeling Solok tersebut di bagi atas Kabupaten Sawahlunto/Sijunjung dan Kabupaten Solok, maka Pemerintahan Stad Gemeente Sawahlunto di rangkap oleh Bupati Sawahlunto/Sijunjung. Kemudian dalam kurun waktu 1949 – 1965 terjadi perubahan status dari berdiri sendiri atau di bawah Pemerintah Sawahlunto/Sijunjung.

Selanjutnya dengan Undang-undang Nomor 18 Tahun 1965 statusnya berubah menjadi Daerah Tingkat II dengan sebutan Kotamadya Sawahlunto berkepala Perintahnya sendiri di bawah Walikota Akhmad Noerdin SH terhitung mulai tanggal 11 Juni 1965 yang dengan Surat Keputusan Menteri Dalam Negeri, 8 Maret 1965 Nomor 1965 Nomor Up. 15/2/13-227 di tunjuk sebagai Pejabat Walikota Kepala Daerah Sawahlunto.

Saat ini kota Sawahlunto berkembang menjadi kota wisata tua yang multi etnik, sehingga menjadi salah satu kota tua terbaik di Indonesia. Di kota yang didirikan pada tahun 1888 ini, banyak berdiri bangunan-bangunan tua peninggalan Belanda. Sebagian bagunan tua tersebut telah ditetapkan sebagai cagar budaya oleh pemerintah setempat dalam rangka mendorong pariwisata dan mencanangkan Sawahlunto menjadi; “Kota Wisata Tambang yang Berbudaya”

Bentang alam kota Sawahlunto memiliki ketinggian yang sangat bervariasi, yaitu antara 250 meter sampai 650 meter di atas permukaan laut. Bagian utara kota ini memiliki topografi yang relatif datar meski berada pada sebuah lembah, terutama daerah yang dilalui oleh Batang Lunto, di mana di sekitar sungai inilah dibentuknya pemukiman dan fasilitas-fasilitas umum yang didirikan sejak masa pemerintahan Hindia Belanda. Sementara itu bagian timur dan selatan kota ini relatif curam dengan kemiringan lebih dari 40%.

Kota Sawahlunto terletak di daerah dataran tinggi yang merupakan bagian dari Bukit Barisan dan memiliki luas 273,45 km². Dari luas tersebut, lebih dari 26,5% atau sekitar 72,47 km² merupakan kawasan perbukitan yang ditutupi hutan lindung. Penggunaan tanah yang dominan di kota ini adalah perkebunan sekitar 34%, dan danau yang terbentuk dari bekas galian tambang batu bara sekitar 0,25%.

Potensi Batubara mengantarkan Kota Sawahlunto menjadi catatan penting pemerintah Hindia Belanda yang melakukan pembukaan tambang batubaran sejak 1891 dan sekaligus merupakan asset terpenting bagi pemerintahan Kolonial Belanda, karena tingginya permintaan dunia akan batu bara sebagai sumber energy di abad penemuan Mesin Uap di Eropa Barat. Apalagi cadangan deposit Batubara Sawahlunto diperkirakan mencapai angka 205 juta ton. Cadangan batubara itu tersebar diantaranya daerah Perambahan, Sikalang, Sungai Durian, Sigaluik, Padang Sibusuk, Lurah Gadang dan Tanjung Ampalu.

Namun sayangnya, potensi objek wisata yang ada di Kota Sawahlunto belum tergarap secara maksimal. Padahal, Kota Sawahlunto punya potensi alam yang aduhai indahnya, seperti objek Wisata Danau Biru di Talawi.

Kemudian jarak tempuh untuk menuju Danau Biru Sawahlunto tersebut hanya sekitar 10 kilo meter dari pusat Kota Sawahlunto. Bahkan objek wisata yang booming pada awal tahun 2016 ini menyajikan keindahan danau yang airnya berwarna biru muda cerah. Danau yang terbentuk dari bekas tambang batu bara yang dilakukan oleh PT swasta ini secara tidak sengaja mengubahnya menjadi tempat wisata baru di kota Sawahlunto.

Namun sangat disayangkan akses jalan menuju lokasi yang cukup jelek dan sedikit berbahaya. Batu kerikil yang tajam-tajam bisa saja membuat roda kendaraan kembes atau bocor yang mana tempat tambal ban amat jauh dari lokasi. Seharusnya Pemkot Sawahlunto memperbaiki jalan menuju lokasi wisata danau biru ini. dan satu lagi apabila dikelola secara profesional akan bisa menambah pendapatan asli daerah ini, yang disayangkan sampai hari ini masih belum dikelola secara profesional.

Kedepan kita berharap kepada pemerintah Kota Sawahlunto untuk menjadikan objek Wisata Danau Biru ini menjadi objek wisata keluarga. Maksudnya, disekitar Danau Biru dibangun vila-vila kecil untuk menampung pasagan keluarga muda dengan dua anaknya. Terutama dari kalangan dokter-dokter yang ingin menghabiskan waktu istirahatnya di kawasan Danau Biru. Bisa jadi juga kalangan pengusaha muda yang ingin menikmati keindahan alam disekitar Danau Biru.

 

Selanjutnya Pemko Sawahlunto perlu menyediakan anggaran di APBD untuk membangun inprastruktur yang menunjang keberadaan objek Wisata Danau Biru tersebut. Kemudian mempromosikan keberadaan Danau Biro ke manca negara, terutama ke Erofa, khusunya negara Belanda, agar mereka bisa bernostalgia dengan bekas daerah jajahannya.

Yang tak kalah pentingnya mendidik masyarakat untuk sadar wisata dengan acuan program Pesona Wisata. Maksudnya, masyarakat yang datang berkunjung harus dihargai dan diperlakukna bagaikan raja yang lagi berlibur. Semoga.