Catatan Yal Aziz: Menunggu Ketegasan Ulama Tentang Dunia Malam di Kota Padang

SEBAGAI sebuah ibukota provinsi, Kota Padang juga tak terlepas dari dunia kehidupan malam. Bahkan hiburan malam, tempat hiburan, dan para penikmatnya adalah satu paket pengisi dunia malam. Yang hebatnya, malam hari sudah menjadi milik mereka yang mencari kesenangan duniawi. Untuk itu, jangan heran kalau mereka bersantai dan menikmati kehidupan malam dengan bersuka ria di berbagai klab malam, kafe, diskotik, karaoke yang kian menjamur di Kota Padang.

Bagi masyarakat yang sudah terbawa arus budaya barat, dunia malam bukanlah suatu aktifitas yang tabu bagi mereka. Bahkan dunia malam telah menjadi suatu konsumsi diri bagi penikmat hiburan malam tersebut. Kemudian dari dunia malam inilah muncul sebuah istilah yang ngetren trend yang disebut dugem alias dunia gemerlap.

Dugem adalah istilah gaul yang berasal dari singkatan dua kata: dunia gemerlap. Istilah ini menjadi sangat terkenal seiring dengan kebutuhan para eksekutif muda untuk menyeimbangkan diri dari tumpukan emosi dan rutinitas pekerjaan seminggu di kantor dan bisnis yang dikelolanya sendiri.

Katanya, berdugem-ria dengan menikmati suasana diskotik, cafe, bar atau lounge yang menghadirkan musik dengan bit yang kuat, cepat dengan volume yang keras yang merangsang badan ikut ‘shake n movin’ (berdisko) dan bergoyang semalaman bisa membuat orang merasa rileks dan bisa menghilangkan kepenatan di otak. Hal inilah yang membuat para penikmatnya tak dapat terlepas dari dugem dan menjadikannya sebagai gaya hidup mereka.

Jadi, tidak lah mengherankan jika Dugem telah menjadi program rutin bagi penikmat dunia malam. Bahkan mereka rela mengalokasikan dana khusus untuk hal yang mereka sebut ‘memanjakan diri menghilangkan penat’ itu.

Terperangkapnya mereka dengan gaya hidup dunia gemerlap ini dikarenakan oleh beberapa penyebab. Ada yang awalnya hanya penasaran ingin mencoba dan ada pula yang disebabkan oleh ajakan teman. Namun, ada juga dari mereka yang mengatakan bahwa mereka mengikuti gaya hidup dugem dikarenakan adanya gengsi dan ingin disebut “gaul”. Sehingga gaya hidup seperti ini sudah bisa menjadi trend berharga di kalangan mereka. Bahkan menjadi semacam kebutuhan yang harus terlaksana sebagai media penghiburan diri.

Kegiatan dugem yang dikemas dengan suasana meriah dengan sorot lampu dan suara music yang keras menjadi daya tarik tersendiri bagi mereka yang menyebut dirinya sebagai masyarakat gaul. Untuk itu, jangan heran jika rokok, narkoba dan minuman beralkohol sudah seks bebas.

Fakta dan kondisi kehidupan malam diKota Padang sudah bisa dibilang bertentangan dengan nilai agama dan budaya orang Minang yang punya filosofi Adat Basandi Syarak dan Syarak Basandi Kitabullah.

Tapi anehnya, para ulama dan tokoh adat di Kota Padang seakan tak tahu atau pura-pura tidak tahu tentang maraknya kehidupan malam di Kota Padang yang sudah mengkhawatirkan ini. Atau para ulama dan tokoh masyarakat ini menilai kalau kehidupan malam ini suatu hal yang biasa di sebuah ibukota provinsi yang nota bene penduduknya majemuk.

Diakui, Satpol PP sebagai instansi yang peduli peraturan daerah telah berkali-kali melakukan razia dan penertiban tentang tempat penjual menimun beralkhohol di kawasan pondok. Tapi hasilnya juga masih angek-angek cirik ayam. Hari ini dilakukan razia dan penertiban, seminggu kemudian tempat penjulan minuman keras tersebut beroperasi lagi. Begitu juga dengan tempat hiburan malam tersebut.

Yang anehnya, seakan-sekan hanya Satpol PP saja yang peduli dengan tempat hiburan malam dan warung-warung penjual minuman keras tersebut. Sementara para tokoh masyarakat dan ulama seakan cuek, sehingga menimbulkan kesan para tokoh masyarakat ersebut keciprat rejeki pula dari tampat maksiat tersebut.

Kedepan kita berharap kepada tokoh masyarakat, apakah itu tokoh agama atau tokoh adat untuk peduli dengan kehidupan dunia malam di Kota Padang ini. Bagaimana pun jua, kehidupan malam tersebut jelas punya dampak negatih terhadap generasi muda harapan bangsa. Semoga!!!.