Catatan Susi Suzanna: Cerita Dibalik Politik Setengah Matang

Hasil pleno KPU tingkat kota/kabupaten dan provinsi sudah usai. Tinggal menunggu hasil pleno tingkat nasional tanggal 22 Mei nanti.

Hasil politik setengah matang juga sudah terlihat hasilnya dimana politisi parpol pendukung paslon 01 secara militan terbukti berhasil kembali menduduki kursi lembaga legislatif seperti di Kota Padang. Selamat untuk Iswanto Kwara dan Wismar Panjaitan berhasil mempertahankan posisinya sebagai wakil rakyat terpilih di Padang Kota Tercinta.

Sedangkan politisi yang partainya pendukung paslon 01 namun cenderung mendukung paslon 02 maka membuat para politisi tersebut ‘terjun bebas’. Mereka ‘terduduk’ dan tidak duduk sebagai wakil rakyat Kota Padang.

Sebelum pemilu dimulai, saya bersama teman2 wartawan diskusi di Warta Kafe Kompleks GOR H Agus Salim. Bahkan mereka mengajak saya bertaruh, siapa yang menang untuk pilpres di Sumbar. Dengan tegas saya jawab paslon 02, bahkan suaranya mayoritas di sini. Namun untuk skala nasional paslon 01 menguasai.

Deal ! Kata para junior saya waktu itu. Diskusi kami seperti rapat redaksi belasan tahun yang lalu di Harian Padang Ekspres dan Posmetro. Bersama Abenk, Sonialis, Sukri Umar dan Montosori, diskusi kami seru ketika itu. Sampailah kami membahas politik setengah matang karena Sumbar merupakan kantong suara untuk paslon 02. Diperkirakan parpol pendukung paslon 02 akan menerima ‘galodo’ kursi legislatif akibat dukungannya.

Dalam pengamatan saya di medsos, ada istri caleg pendukung paslon 01 tapi seperti berkampanye untuk paslon 02. Hal yang sama juga saya lihat untuk caleg2, dimana parpolnya pendukung paslon 01 namun mereka ‘menempel’ kampanye untuk paslon 02. Ada ketidakkonsistenan saya lihat disini.

Seharusnya mereka tidak memperlihatkan ketidakkonsistenan tersebut di dunia maya karena masyarakat menjadi bingung untuk memilihnya. Masyarakat butuh pemimpin yang konsisten dengan pendiriannya, bukannya setengah matang seperti itu.

Untuk tingkat nasional, menjelang Pilpres 2019, banyak tayangan debat sirkus kata-kata yang bermunculan di media TV nasional. Ada yang menampilkan politisi muda yang baru mencari lapak di politik sampai politisi berusia senja yang masih betah untuk bersuara.

Kemunculan politisi-politisi muda yang diharapkan menjadi regenerasi di perpolitikan Indonesia, sepertinya masih jauh dari yang diharapkan. Meskipun mereka nyaring bersuara, tapi seakan-akan sedikit memaksa untuk didengarkan.

Begitu pun dengan politisi yang sudah lama malang melintang di berbagai kontestasi politik. Mereka juga tidak jauh berbeda. Asal lantang bersuara dengan nada tinggi biar terdengar meyakinkan meskipun jauh dari ukuran , tidak menjadi persoalan.

Ukuran kualitas keilmuan, argumentasi, data, dan kepantasan seakan-akan menjadi faktor yang tidak begitu penting.

Kebanyakan masyarakat tidak mungkin mau mengecek secara detail kebenaran dari ucapan mereka. Yang penting argumen dan jargon tersebut mudah dipahami, serta cepat tersimpan di alam bawah sadar, dan mudah meraih simpati. Dengan begitu sudah cukup meyakinkan untuk dijadikan sebagai bahan jualan politik.

Miris melihat kualitas dari debat-debat tersebut, hanya bermain di seputar retorika, intonasi, dan ngotot-ngototan. Masyarakat seakan-akan disuguhkan dengan permainan emosi yang sama sekali tidak membutuhkan nalar untuk mencernanya. Sehingga yang muncul dari kolom-kolom komentar ketika debat berlangsung hanya seputar makian ke masing-masing kubu.

Secara sengaja, mereka telah terbentuk menjadi suporter yang naif dan emosional. Itu bukanlah hal yang aneh, mereka hanyalah cerminan dari tontonan argumentasi politik yang tidak berkualitas.

Hampir di semua debat politik, baik itu pemilihan kepala daerah, gubernur, sampai pada pemilihan presiden bermain di level yang sama. Masyarakat tidak disuguhkan dengan ide dan program yang inovatif. Masyarakat juga tidak diajak untuk berpikir cerdas, rasional, dan melihat ke depan.

Sayangnya, politisi-politisi tersebut banyak yang melabeli dirinya dengan pangkat intelektual yang tinggi (doktor, dokter, ekonom, tenaga ahli x-y, dsb). Belum lagi embel-embel lulusan luar negeri, biar lebih menyakinkan. Kebanyakan dari mereka menjadikan data yang tidak valid (hoaks) menjadi rujukan dari argumentasi tersebut.

Sebenarnya kalau mau ditelisik lebih jauh, kebanyakan dari politisi tersebut besar di organisasi kemahasiswaan (BEM) yang kemudian masuk di organisasi kemasyarakatan yang lain. Banyak di antara mereka kemudian dilirik oleh partai politik karena dianggap mampu untuk mempengaruhi orang banyak.

Telah terjadi simbiosis mutualisme antara partai politik dan individu yang memang mencari inang untuk mengembangkan karir politiknya. Toh memang terbukti, politik bisa secara instan membawa popularitas, jabatan, kemewahan, dan fasilitas yang tidak mungkin didapat secara cepat melalui jalur profesional.

Dengan sistem rekrutmen kader politik yang instan serta tujuan pembentukan partai politik yang memang didesain untuk memperoleh kekuasaan demi kelancaran usaha para pemilik partai, maka bukan sesuatu yang aneh bila kualitas politik yang pertontonkan sekarang ini, masih jauh dari hakikat demokrasi yang berkualitas.

Bahkan untuk tataran politik sekarang ini bisa dikatakan sebagai politik yang berjubah kepalsuan dan kebohongan. Dalam tinjuan akademis inilah yang kenal dengan teori .

Teori ini pertama kali dikembangkan oleh Ralph Keyes dalam tulisannya, “The Post-Truth Era” di tahun 2004. Dalam teori ini suatu fiksi bisa dimanipulasi seolah-olah menjadi fakta dan tujuan utamanya adalah untuk memanipulasi opini para pemilih.

Dan ini benar-benar terjadi di kalangan politisi kita. Beberapa waktu lalu ketika gempa Palu baru saja terjadi dan ‘seorang politisi’ mendapatkan informasi dari rekan sesama partai dengan label ‘ahli kimia’ menyatakan bahwa gempa di Palu dan Aceh adalah hasil bom Amerika.

Tujuan dari bom tersebut agar salah satu kandidat presiden mendapatkan aliran dana yang tidak terdeteksi untuk modal kampanye.

Yang menarik buat saya adalah alasan dia mempercayai argumentasi tersebut karena dikemukakan oleh seorang politisi dengan lulusan pendidikan (Master) disalah satu universitas sangat terkemuka di Indonesia. Sehingga ia memastikan sudah pasti informasi dari rekannya tersebut adalah valid.

Ini berarti ada kecenderungan orang dengan mudah mempercayai sesuatu tanpa menalarnya terlebih dahulu. Ini akan sangat berbahaya apalagi kalau argumentasi yang penuh kebohongan tersebut terpapar ke masyarakat luas. Argumentasi tersebut secara sengaja diciptakan untuk membentuk emosionalitas tanpa logika, dengan demikian mereka bisa mendapatkan pendukung yang benar-benar loyal bahkan buta secara emosi.

Banyaknya tontonan argumentasi yang tidak berkualitas menunjukkan rendahnya kualitas politisi di Indonesia. (Penulis Pemimpin Redksi Tabloidbijak.com dan tulisan ini dirangkum dari berbagai sumber).