Catatan H. Dheni Kurnia: Boikot Rumah Makan Padang

ADA cerita menarik seputar kekalahan telak Capres Joko Widodo yang berpasangan dengan Kyai Ma’ruf Amin di Sumatera Barat. Beberapa pendukung fanatik Jokowi minta agar masyarakat di luar Sumbar, tidak lagi membeli atau mengkonsumsi nasi Padang.

Ajakan yang disampaikan melalui beberapa media sosial ini, mendapat tanggapan serius dari sekelompok pengagum fanatik Jokowi-Ma’ruf. Karenanya dalam waktu dekat, ajakan ini, menjadi viral di Indonesia. Bahkan sejumlah pengamat sosial di tanah air ikut menulis dan berkomentar tentang “permintaan gila” ini.

Joko Widodo, kebetulan memang kalah telak di Sumatera Barat dalam Pilpres beberapa hari lalu. Menurut hasil quick count (hitung cepat) Indikator Politik Indonesia, Jokowi-Ma’ruf hanya meraup 15,88 persen. Sedangkan hasil hitung cepat Poltracking, Jokowi-Ma’ruf hanya mendapatkan 12,09 persen suara saja.

Yang lebih dahsyat lagi adalah hitung cepat dari Indo Barometer. Mereka menyatakan bahwa Jokowi-Makruf kebagian 9,55 persen. Ini berarti Jokowi kalah telak dari Prabowo-Sandi yang mengantongi 90,45 persen. Angka ini berbeda jauh dari Pemilu sebelumnya, saat Prabowo berduet dengan Hatta Rajasa, lima tahun lalu. Saat itu Prabowo meraih 1.797.505 suara atau 76,9 persen, sementara Jokowi yang berpasangan dengan Yusuf Kalla, memperoleh 539.308 suara atau 23,1 persen.

Peraihan suara yang dianggap pendukung Jokowi tidak normal inilah yang membuat mereka marah besar. Mereka menilai, orang Sumbar (disebut juga orang Minangkabau atau orang Padang), sebagai orang yang tidak tahu diuntung dan tak tahu berterima kasih. Mereka menilai, Jokowi sudah diperlakukan secara tidak manusiawi. Karena Jokowi kerap memperhatikan pembangunan untuk Sumbar. Bahkan beberapa “jatah menteri” di kabinet Jokowi, diberikan kepada orang Sumatera Barat.

Tercatat, Jokowi beberapakali menyambangi Nagari Minangkabau sejak menjabat sebagai Presiden. Kunjungan itu bahkan sampai ke desa-desa, termasuk meresmikan Pantai Mandeh sebagai wisata unggulan Kabupaten Pesisir Selatan, membuka jalan tol Padang-Bukittinggi untuk akses ke Pekanbaru-Dumai. Selain itu, Jokowi juga memberikan dana DIPA (Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran) yang sangat besar bagi Sumbar, bahkan jauh lebih besar dari Provinsi tetangga seperti Riau dan Jambi.

Tapi kemarahan pendukung fanatik ini tak tahu kan kemana nak diarahkan, karena memilih presiden merupakan hak pribadi setiap orang. Akhirnya, mereka “bersepakat” untuk memboikot dan mengajak semua orang untuk membangkrutkan rumah makan Padang yang memang banyak terdapat di seluruh pelosok Indonesia. Dengan cara, jangan lagi makan nasi Padang, apalagi membelinya.

Beberapa kalimat yang dimuat di FB (fesbuk) tentang protes itu antara lain; “Jadi malas makan di rumah makan Padang. Kayaknya rakyat yang harus membalas, bangkrutkan semua rumah makan Padang.” Kemudian, tulisan itu dibalas oleh yang lain; “Ide bagus nih. Gimana supaya bisa buat gerakan anti makan masakan Padang ya. Biar tahu rasa mereka. Sudah dikasih banyak sama Pakdhe (Jokowi) masih juga balasannya nyakitin Pakdhe. Gila emang!” Kemudian tulisan ini ditanggapi oleh ratusan orang lainnya.

Ide gila ini, disambut dengan beragam pendapat. Ada yang setuju, selain banyak juga yang menolak sampai tertawa terbahak-bahak. Tetapi pemboikotan ini terlanjur menjadi viral di dunia maya. Sebab sejumlah televisi dan media cetak ikut pula memberikan porsi atas pemberitaan tentang tidak membeli nasi Padang!

Pemboikotan ini semakin berkibar, setelah dua kubu yang berebut kursi presiden ikut bicara, termasuk Presiden Jokowi sendiri. Kata Jokowi, kekalahan dirinya di Sumbar adalah hal yang biasa saja. Karena itu adalah pilihan masyakarat. Dia tidak dendam dan tidak pula akan berhenti makan nasi Padang. Karena dia mengaku sangat suka nasi Padang. Jadi, ide pemboikotan itu, dipastikan bukan dari pihak mereka.

Sedang di kubu Prabowo, menurut Cawapres Sandiaga Uno, semua pihak harus lebih dewasa dalam menyikapi hasil Pilpres. Jangan karena ada Pilpres kekuatan bangsa terpecah belah. “Kita harus dewasa. Apalagi, masakan Padang sudah dinobatkan sebagai makanan terbaik di dunia selain nasi goreng,” katanya seraya meminta hasil Pilpres ini jangan membuat orang mempunyai sifat juniper atau julid, nyinyir dan baper.

Para ahli jiwa dan sosiolog pun, ikut pula memberikan pendapat. Prof Dr Bagong Suyanto dari Universitas Airlangga Surabaya berpendapat, bahwa rencana pemboikotan ini termasuk tindakan yang reaksioner saja. “Saya kira itu tindakan yang reaksioner, terbawa suasana pilpres yang membuat masyarakat gampang terbelah,” ujar Bagong kepada wartawan Harian Kompas.

Bagong menyimpulkan bahwa sikap reaktif ini cenderung sebagai ekspresi solidaritas dengan teman. Ada kemungkinan juga tanggapan itu sekadar guyonan, ekspresi kekecewaan dan ekspresi solidaritas. Bisa pula hanya sekedar lucu-lucuan saja. Makanya, pemboikotan ini tidak akan pernah terlaksana sebab tidak didorong oleh faktor subtansial.

Namun, meski menurut Prof Bagong hanya lucu-lucuan, tapi perang media sosial justru semakin panas. “Boikot nasi Padang. Orang bodoh, yang pelihara kebodohan,” tegas Yulia Wilda seorang Fesbuker.

Nasi Padang, sambungnya, adalah makanan yang terkenal se-antero dunia, yang bisa saja membuat orang iri atas kesuksesannya. Hanya karena Beda pilihan, trus ada orang-orang berhati “busuk” bikin tagar Boikot Nasi Padang. “Harusnya kamu bertanya dulu kenapa di Sumatera Barat Hampir 100 % Memilih Prabowo-Sandi, bukan Jokowi?” katanya lagi.

SESUNGGUHNYA, nasi Padang adalah kuliner Indonesia cepat saji yang sangat terkenal tak hanya dalam negeri, bahkan sampai mancanegara. Saking terkenalnya, di Kutub Utara atau di bulan pun (kalau ada yang jual) pasti ada yang membelinya. Sebab masakan ini bisa menyesuaikan rasa dan selera dimana dia dijual.

Nasi Padang dengan cita-rasa khas, terkenal karena dicampur rempah-rempah antara lain; jintan, ketumbar, kulitmanis, adas, jahe, serai, kemiri, langkuas, santan dan sebagainya. Makanya, masakan rendang, kalio, palai, cancang, dan gulai asam pedas paling terkenal di Indonesia, berasal dari Sumatera Barat. Harganya pun bervariasi. Mulai dari yang mahal, sedang, murah dan sangat murah.

Karena itu, adalah sesuatu yang tak masuk akal jika ada ajakan atau ide untuk memboikot masakan Padang, apalagi hanya gara-gara pemilihan presiden. Sama halnya, bila ada orang yang meminta agar orang Indonesia jangan lagi makan nasi uduk, nasi tutug ,pecal lele, coto mangkasar, bakmi, gudek, rujak cingur dan sebagainya. Hanya orang-orang yang terganggu sarafnya atau menderita kelainan jiwalah yang mengeluarkan ajakan boikot.

Para phisikolog bahkan ada yang menilai, ajakan boikot ini, bisa jadi merupakan implementasi dari rasa benci atau tidak suka terhadap satu suku yang bernama Padang atau Minang itu. Dan, kinilah momen yang tepat untuk menyampaikannya, mumpung suasana Pilpres. Padahal di negeri ini, hal-hal yang menyangkut SARA (Suku, Agama, Ras dan Antar golongan), diharamkan untuk dipertikaikan.

Padahal juga, orang Padang itu adalah bagian yang tak terpisahkan dari sejarah panjang kemerdekaan negara ini. Sebagaimana suku-suku lain di Indonesia, orang Minang ikut dalam kancah pemikiran sosial, agama dan ideologis pergerakan anti penjajahan. Orang-orang seperti Tuanku Imam Bonjol, Mohammad Hatta, Agus Salim, Syafruddin Prawiranegara, Sutan Syahrir, Muhammad Natsir, Mr. Assaat Dt. Mudo, Muhammad Yamin, Djamaluddin Adinegoro, Buya Hamka dan lainnya, adalah para tokoh perintis kemerdekaan dan ulama besar. Mereka juga termasuk dalam kelompok para idiolog besar Indonesia.

Bahkan, Wakil Presiden Republik Indonesia yang pertama, Mohammad Hatta, yang mendampingi Presiden Soekarno, berasal dari Ranah Minang. Dia lebih dulu menjadi Wapres ketimbang orang Jawa lainnya seperti Sri Sultan Hamengku Buwono IX, Tri Sutrisno, Umar Wirahadi Kusuma dan lainnya. Begitu pula dengan Haji Agus Salim dan Sutan Syahrir. Mereka adalah orang pertama yang berpidato di PBB dan Kongres Amerika, untuk meminta dukungan bagi kemerdekaan Indonesia. Salim dan Syahrir, yang menguasai bahasa Belanda, Inggris dan Perancis, juga berkeliling dunia meminta simpati internasional untuk pengakuan kedaulatan negeri ini.

Orang Minang, bukanlah sekadar penjual nasi Padang atau menguasai lapak K-5 (kaki lima). Apalagi orang-orang yang tak tahu diuntung dan orang yang tak membalas budi. Mereka adalah keturunan para petarung dan orang-orang hebat dari puak beradat. Mereka adalah orang-orang rasional yang berpikiran waras. Mereka tidak akan tunduk pada tekanan apapun, apalagi hanya sekedar pemboikotan nasi Padang. *

Penulis; Pemimpin Redaksi Harian Vokal dan Ketua DKP PWI Riau.