Ketua TP PKK Payakumbuh Buka Pelatihan Keterampilan Tata Boga

BIJAK ONLINE (PAYAKUMBUH)—Ketua Tim Penggerak PKK Kota Payakumbuh sekaligus anggota Dewan Ketahanan Pangan Kota, Ny. Henny Riza Falepi membuka secara resmi Pelatihan Keterampilan Tata Boga Bagi Kader PKK, Dasawisma dan Kelompok Wanita Tani (KWT) se Kota Payakumbuh. Pembukaan pelatihan yang diangkatkan Dinas P3A & P2KB tersebut berlangsung di SMKN 3 Payakumbuh, Senin (3/9).

Menurut Ketua Panitia Pelatihan, Ernita yang juga Kabid Pemberdayaan Perempuan pada Dinas P3A&P2KB, pelatihan dilaksanakan dalam rangka peningkatan ekonomi perempuan dan mewujudkan ketahanan keluarga di Kota Payakumbuh. Pelatihan berlangsung selama 6 hari terhitung tanggal 3-8 September 2018.

“Peserta pelatihan adalah kader PKK,Dasawisma dan KWT dengan kategori perempuan berekonomi lemah atau berstatus sebagai ibu rumah tangga. Masing-masing kecamatan mengutus 8 (delapan) orang, sehingga total peserta sebanyak 40 orang” ujar Ernita.

Dilaporkan, instruktur pelatihan berasal dari Tim Tata Boga SMKN 3 dan TP-PKK Kota Payakumbuh. Adapun selama pelatihan peserta akan dilatih membuat 10 resep makanan dari bahan non beras, non terigu dan terigu.

“Kita berharap dari pelatihan ini para peserta mampu mengembangkan industri rumahan, wirausaha untuk dapat membantu ekonomi keluarga, ” ujar Ernita.

Sementara, Ketua TP PKK Kota Payakumbuh, Ny. Henny Riza Falepi dalam sambutannya meminta komitmen para peserta untuk serius menimba ilmu dan menerapkan yang didapatkan dalam pelatihan tersebut. Henny bahkan meminta peserta yang tidak mampu mengikuti pelatihan secara serius untuk mengundurkan diri sejak hari pertama.

“Ibu-ibu yang ikut pelatihan ini harus serius dan siap untuk berusaha pasca pelatihan. Sayang kalau tidak dikembangkan ilmunya. Sebab peserta kita terbatas. Banyak ibu-ibu lain yang ingin ikut, tetapi karena terbatas, tidak bisa ikuti pelatihan ini. Jadi kalau ibu-ibu tidak serius, maka lebih baik mengundurkan diri saja,” tegas Henny.

“Saya harus menyampaikan kalimat tegas begini karena ingin ibu-ibu semua maju. Ekonomi keluarga ibu bisa berubah dan meningkat dengan mengikuti pelatihan ini, serta mampu mentransfer ilmu dan menggerakkan ekonomi masyarakat dilingkungan ibu-ibu,” tambah Henny.

Pada kesempatan itu, Henny juga menyorot tentang bahan dasar yang digunakan dalam pelatihan tersebut. Henny meminta agar pelatihan diarahkan untuk memanfaatkan bahan non terigu. Dikatakan, terigu merupakan bahan impor yang justru membebani ekonomi negara.

“Terigu itu barang impor, tidak ada di Indonesia. Kenapa tidak kita ganti dengan tepung singkong, labu dan tepung-tepung berbahan pangan lokal lainnya yang melimpah di daerah kita. Apalagi sekarang Dollar sedang naik, tentu cost produksinya akan lebih tinggi sebab dia barang impor,” ulas Henny. (ada)