Catatan H. Dheni Kurnia: Sudah Jinak, UAS tidak Lagi BUAS!

DUKUNGAN terhadap Ustadz Abdul Somad (UAS) untuk menjadi Wakil Presiden (Wapres) Republik Indonesia, makin hari semakin menguat. Permintaan agar dia maju bersama Letnan Jenderal TNI (Purn) Prabowo Subianto, untuk memimpin negara ini, terdengar dari setiap sudut negeri. Bahkan anak anak yang belum boleh memilih pun, minta UAS jadi Wapres.

“Kami suka Ustadz Somad. Dia pintar dan sayang anak anak,” kata Rima Maulani, Pelajar SMP 12 Tampan Pekanbaru. “Ustadz Somad itu lucu dan pintar. Saya sering dibawa Bapak mendengar pengajian di Mesjid. Tapi saya sering tidur. Kalau Ustadz Somad yang ceramah, saya gak mau ceramahnya cepat selesai. Saya suka berlama lama mendengarnya. Kemarin, saya dengar Ustadz Somad mau jadi wakil presiden. Kalau saya boleh milih, saya pasti pilih Ustadz Somad,” sambung Dami Agustian, pelajar SMP 13 di Mesjid Agung Pekanbaru.

Memang, dukungan kepada Somad, bukanlah “Icak icak” atau hanya isapan jempol. Yang mengajukan UAS sebagai Wapres adalah hasil Ijtima Ulama Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF). Mereka merekomendasikan UAS sebagai salah satu kandidat calon Wapres, selain Ketua Dewan Syuro PKS (Partai Keadilan Sejahtera) Salim Segaf Al Jufri. Bahkan menyambut dukungan para ulama tersebut, pihak Prabowo melalui Partai Gerindra, mengundang UAS secara khusus ke markas mereka.

Gerindra sangat paham, meski mereka sudah melakukan lobi lobi politik dengan sejumlah partai untuk mendukung Prabowo sebagai Presiden, tapi mereka tidak berani mengenyampingkan UAS. Apalagi saat ini UAS memiliki pendukung yang besar dan luas yang datang dari mana mana di tanah air.

Betul, banyak pula yang menolak UAS. Tapi jumlahnya terhitung malu malu. Artinya, secara spontan mereka “takut” meremehkan dukungan yang sudah menggeduru terhadap UAS. Menurut mereka, sebaiknya UAS tidak perlu maju. Dia masih dibutuhkan ummat untuk suluh di siang hari dan pelita di malam gelap. Lagipula, elektabilitas UAS masih tergolong rendah. Ini nanti justru membuka peluang bagi Jokowi meraih kemenangan di Pilpres 2019. Bahkan, kata mereka, nama UAS tak pernah muncul dalam survei. Ini tentu akan merugikan Prabowo yang sudah tiga kali maju sebagai Capres maupun Cawapres. Karena politik itu butuh kalkulasi rasional bukan emosional sesaat.

Pendapat ini, tentu pula langsung dibantah seorang kyai kondang, Ustadz Muhammad Arifin Ilham. Kata Arifin, UAS lah yang paling tepat mendampingi Prabowo saat ini. “Saya akan bermohon pada UAS agar dia mau mendampingi Pak Prabowo. Saya ingin Bang Somad menjadi pemimpin untuk dunia dan akhirat,” katanya serius. Tambahnya, Ustadz Somad bisa mencontoh Rasulullah SAW dan para sahabat, yang menjadi umara (pemimpin negara) sekaligus menjadi ulama (pemimpin agama).

Arifin meyakini, jika UAS ikut bursa pencalonan Wapres, dia akan keluar sebagai pemenang. Karena sebuah lembaga survey sudah membuktikan, jika UAS maju, mayoritas ummat Islam Indonesia akan memilihnya. Lagi pula, jika dia menjadi Capres atau Cawapres, dia tetap akan bisa berdakwah. Menurut Arifin dakwah yang paling mulia adalah dakwah ukhuwah (dakwah yang menyatukan umat). Dalam posisi sebagai seorang pemimpin negara, UAS akan lebih leluasa bergerak untuk menyatukan ummat.

Hal yang sama juga diyakini Ketua Dewan Kehormatan Partai Amanat Nasional (PAN), Profesor Amien Rais. Salah satu alasannya, selain UAS ahli agama, dia dianggap lebih populer dari kandidat calon Wapres lainnya. “Teman teman saya membuat survei, siapa tokoh di Indonesia yang paling populer saat ini. Di nomor satu, ketemu nama Pak Abdul Somad, bukan yang lain. Jadi saya mendukung beliau mendampingi Prabowo,” tegas Amien. Lagipula, sambung Amien, UAS dari ceramah ceramahnya, dari pengetahuannya, pendidikannya, polapikirnya, adabnya dan ketegasannya, dia adalah seorang intelektual dan seorang yang cerdas. Ini adalah modal yang sangat besar sebagai seorang pemimpin.

SAYANG! Sejuta kali sayang. Senin malam kemarin, UAS menolak semua keinginan sebagian besar rakyat Indonesia. Melalui siaran khusus di tvOne, UAS menegaskan bahwa dia tidak akan maju sebagai apapun, kecuali sebagai seorang pendakwah dan pendidik. Dia lebih memilih sebagai seorang Ustadz yang menjadi suluh di tengah kelam, setetes embun di tengah sahara. “Saya mohon maaf pada semua yang mendukung saya untuk maju sebagai Wapres mendampingi Pak Prabowo,” katanya. Penolakan ini, konon membuat banyak pemirsa televisi menangis harupilu, termasuk Ustadz Arifin Ilham.

Sebenarnya, penolakan UAS ini tak hanya Senin malam kemarin. Sebelum ini, dia berkali kali menolak menjadi apapun kecuali seorang penegak kebenaran melalui jalur dakwah. Bahkan ketika ditabalkan menjadi Datuk Seri Setia Ulama oleh Lembaga Adat Melayu (LAM) Riau beberapa waktu lalu, hal pertama yang diucapkannya adalah akan setia menjaga Marwah Melayu Riau yang berbasiskan Islam, sebagai seorang da’i dan ulama.

Dalam akun Instagram-nya, UAS juga menulis, bahwa dia tidak akan maju sebagai Wapres meski banyak pihak yang meminta. Sebaliknya, dia mendukung Prabowo berpasangan dengan Habib Salim Al Jufri, seorang yang menurut UAS sangat pantas dan layak bersanding dengan Prabowo. Jika keduanya menjadi pemimpin di negara ini kata UAS; “Saya tak sungkan berbisik ke Habib Salim, tak segan bersalam ke Jenderal Prabowo.”

Di laman facebook-nya, UAS juga menulis; “Selamat! Ternyata kerumunan sudah berubah menjadi barisan kekuatan. Prabowo-Habib Salim pasangan tawazun (seimbang) antara ketegasan tentara dan kelembutan ulama, Jawa non-Jawa, nasionalis-religius, plus barokah darah Nabi dalam diri Habib Salim.”

SAYA melihat, UAS memang serius dengan kata katanya. Jika sudah seperti ini, saya juga melihat, tak seorangpun yang bisa membujuk UAS untuk menarik kembali ucapannya untuk kemudian berbalik maju sebagai cawapres atau malah presiden, kecuali ibu kandungnya. UAS memang sangat sayang dan sangat patuh pada ibundanya. Tapi, saya pun melihat, ibu UAS yang masih hidup dan sehat tidak akan membiarkan anaknya memilih jalan yang tidak di hatinya.

Sesungguhnya, banyak orang yang menginginkan jabatan, apalagi setingkat menteri, wakil presiden atau malah presiden. Joko Widodo jauh jauh hari sudah berancang-ancang agar terpilih untuk keduakalinya. Begitu juga dengan Prabowo Subianto. Karena, jangankan untuk presiden dan wakilnya, untuk jabatan lurah saja, kadang sampai berdarah darah dan menjual apa yang ada. Juga, untuk menjadi bupati, walikota dan gubernur. Bermiliar-miliar dihabiskan buat kampanye agar bisa menang . Untuk jabatan camat, kepala dinas, kepala badan atau kapolres dan kapolda misalnya, ada yang berani bayar ratusan juta bahkan miliaran. Tapi UAS justru menolak jabatan yang menjanjikan, meski jutaan ummat mengaku akan mendoakan dan memilihnya menjadi wakil presiden.

Saya percaya, ketidakinginan UAS itu, antara lain (bisa jadi) karena dia sangat terpesona dengan kepintaran empat imam besar ilmu fiqih yang kini menjadi panutan bagi ummat Islam di dunia. Keempat imam itu, lebih memilih jalan Allah sebagai ulama dan pendakwah. Salah satu imam tersebut adalah Abu Hanifah atau yang dikenal dengan sebutan Imam Hanafi.

Imam Hanafi adalah ulama besar, yang memiliki ketinggian ilmu agama dan berakhlak mulia. Imam Abu Hanifah lahir di Kufah Irak, pada 80 Hijriah (699 M) dan wafat pada tahun 150 Hijriah (767 M), tepat saat Imam Al-Syafii lahir. Sering dikatakan, Imam yang satu pergi, datang Imam yang lain. Ketika Gubernur Irak selaku wakil Kepala Negara dijabat oleh Yazid bin Amr bin Hurairah Al Fazzary, Imam Hanafi yang sudah sangat terkenal, dipilih dan ditunjuk menjadi Kepala Perbendaharaan atau Bendahara Negara (Baiitul-Mal). Berulang-kali Yazid menawarkan pangkat yang tinggi itu kepada beliau, namun tetap ditolak. Bahkan ketika Yazid menawarkan pangkat Qadli (Penghulu) Negara, agar sesuai dengan ilmunya, Imam Hanafi kembali menolaknya. “Demi Allah, aku tidak akan mengerjakan jabatan yang ditawarkan kepadaku, sekalipun (andai kata) aku sampai dibunuh olehnya.”

UAS juga menyukai seorang filsuf Islam, bernama Muhammad bin Jarir bin Yazid Ath-Thabari yang biasa dipanggil Abu Ja’far dan dikenal dengan nama Ath-Thabari berasal dari Thabaristan, Iran. Dia adalah seorang ahli fikih, sejarawan, ahli tafsir (mufasir) dan memahami sunnah serta ilmu Al Qur’an. Sepanjang hidup Ath-Thabari dilewati dengan kezuhudan yang luar biasa. Ia tidak terpengaruh pada hingarbingarnya kekuasaan dunia. Sikap ini dibuktikan dengan menolak tawaran jabatan penting di pemerintahan dan imbalan harta yang diberikan kepadanya. Ath-Thabari hidup pada masa keemasan Islam, atau pada pemerintahan Daulah Abbasiyah (750-1242 M) yang berpusat di Baghdad. Pada masa itulah Abu Jak’far yang menjadi panutan ummat, ditawari dengan berbagai jabatan penting di kekhalifahan.

Di mata saya, UAS sangat mengagumi kepemimpinan empat Khalifah (Kepala Negara) setelah Rasulullah Muhammad SAW meninggal dunia. Salah satunya adalah Umar Ibnu Khattab. Ketika menjadi kepala negara, Umar sangat tegas mendidik anak dan keluarganya, agar tidak berkolusi, berkorupsi, bernepotisme dan bergila jabatan. Itulah sebabnya, ketika Sayyidina Umar bin Khattab wafat, sebagian sahabat ingin membaiat dan memilih Abdullah Ibnu Umar (anak Sayyidina Umar) sebagai Presiden. Tapi Abdullah menolak dengan lembut. Karena menurutnya bidang pengabdian kepada Allah SWT ada di banyak pintu.

Dan, di setiap ceramahnya, UAS selalu mengutip kehebatan Buya Haji Abdul Malik Karim Amarullah atau yang lebih dikenal dengan Buya Hamka. UAS juga sangat menghormati Ustadz Mustafa Umar (UMU) yang selalu diakuinya sebagai guru. Dari Hamka dan UMU lah UAS banyak belajar baik secara langsung maupun tidak langsung tentang kecintaan menjadi ulama dan pendakwah. Dan kedua “panutan” UAS itu memang dikenal sebagai Ulama yang keras dan lebih suka menjadi guru agama ketimbang jabatan yang menjanjikan di pemerintahan.

Saya memang tak tahu pasti apakah UAS memang “terpengaruh” atas sikap Imam Hanafi, Abu Jak’far, Abdullah Ibnu Umar bin Khattab atau Buya Hamka dan Ustadz Mustafa Umar hingga dia pun menolak menjadi Wapres;; wallahualam bissawab. Tapi mengingat UAS adalah ulama yang mengagumi tokoh tokoh itu, bisa saja dia menjadi pencontoh yang baik.

Yang jelas, saya yakin, UAS sudah memikirkan penolakan itu dengan timbangan hati dan pikiran yang jernih. Karena dia lebih tahu apa yang diinginkan oleh hatinya, kehidupannya serta cita citanya sejak dia belum jadi apa apa. Kita mesti memahami dan menghargainya. Dan, saya juga haqul yakin, Ustadz Abdul Somad (UAS) Bukanlah Ustadz Asal Somad (BUAS). Dia ustadz yang sudah jinak dan dicintai oleh banyak ummat Islam di Indonesia bahkan di manca negara. ***

H. Dheni Kurnia adalah Pemimpin Redaksi Harian Vokal Riau, Budayawan dan Pecinta Olahraga Karate.