OKP Pasbar Berang Pasca penyuntikan Vaksin MR kepada 17 Ribu Jiwa

BIJAKONLINE.COM (Pasaman Barat)–Pasca penyuntikan Vaksin MR terhadap Tujuh belas ribu jiwa di Pasaman Barat (Pasbar) Ketua Organisasi Kepemudaan (OKP) Pasbar, berang. Pasalnya, sampai saat sekarang keabsahan vaksin tersebut belum jelas apakah halal atau tidak dan sekarang masih dalam tahap pengecekan Majelis Ulama Indonesia (MUI).

“Ini belum jelas ke apsahannya karena menunggu keputusan MUI namun sudah di suntikkan pada anak-anak, siapa yang bertanggung jawab atas semua ini, kata Ketua OKP Denika alias Eka Garuda, pada media Bijakonline.com, Senin 06 Agustus 2018 di Simpang Ampek.

Dikatakan, program tersebut memang sangat bagus terhadap anak-anak akan tetapi diharapkan pihak dinas terkait ada pemberitahuan sehingga tidak ada informasi simpang siur, apalagi vaksin tersebut juga belum jelas apakah halal atau tidak.

Sementara kepala Dinas Kesehatar Pasbar, Haryunidra di dampingi Kabid P2P mengatakan, kalau kegiatan tersebut merupakan program pusat yang harus di jalankan, agar pelaksanaannya tidak batal maka seluruh kabupaten kota harus melaksanakan program tersebut.

“Kita harus melaksanakan program ink karena satu babipatenpun tidak melaksanakannya maka seluruh kabupaten kota akan gagal pelaksanaannya,” kata Haryunidra.

Dikatakan, pihaknya telah melakukan kegiatan tersebut sejak tanggal 1 Agustus 2018, sampai hari Jumat kemarin, namu pihak Puskesmaa yang telah memprogramkan hari Sabtu kmaren mereka di perbolehkan memberikan vaksin tersebut untuk anak-anak di sekolah.

Sementara itu, Dodi Irfanda, salah seorang tokoh muda Pasaman Barat, menyayangkan tindakan pihak Dinas yang terindikasi curi stard dari kabupaten lain, karena belum tentu kejelasan apakah faksin tersebut halal atau tidaknya, namun sudah di suntikkan pada anak-anak ditambahlagi tidak ada pemberitahuan pada walimurid terlebih dahulu.

Disarankan, lanjut Dodi, perlu ada penyuluhan vaksin atau sosialisasi pada semua lini masyarakat berupa kuisioner tentang faksin MR dan penyakit apa saja yang sedang di derita balita / anak- anak.

Adanya hubungan emosional antara dinas terkait dengan walimurid maka akan dapat titik terang apakah mereka bersedia anaknya di suntik vaksin MR atau tidak, Adanya hubungan emosional tersebut maka tidak mberi kegaduhan di tengah-tengah masyarakat dan tidak menjadi tanda tanya.

“Kalau in dilakukan maka orang tua anak tidak menyalahkan pihak kesehatan maupun petugas pelayan kesehatan apabila terjadi kasus ikutan pasca imunisasi ini, Tim Pelayan pasca Imunisasi ini juga perlu ber peran aktif memantau dan megevaluasi saat program vaksinisasi MR di laksanakan,” katanya. (Arafat)