Catatan Yal Aziz: Gaya Eeee Co Kiyai, Tapi Prilakunyo Munafikun

GAYA kader eeee co sipuluik, tapi ditanak badarai. Begitulah gambaran sekilas kalau kita mengibaratkan partai dua penguasa di Ranah Minang ini. Kemudian, kedua penguasa ini, sengaja mendukung program Keluarga Berencana (KB). Tapi kata KB, bukan cukup dua anak saja, tapi banyak anak melebih jari tangan, he he he. Guyon sedikitlah ya.

Jujur, sebelumnya saya memang tak ambil pusing tentang cara mereka berpartai dan mencari dukungan. Tapi kini, saya sedikit usil dan terusik dengan cara mereka berpartai. Soalnya, sepengetahuan saya, taktik dan strategi mereka berpartai, ibarat orang mendorong mobil mogok. Maksudnya, kalau mobil yang didorong itu mesinya hidup, si sopir akan melarikan mobil dengan kencang, tanpa memikirkan orang yang telah mendorong mobilnya. Bahkan, mereka tak akan pernah tahu dengan tenaga kita yang mendorong mobil. Yang ironisnya, jangankan akan meminta terima, menyapa pun tidak, he he he dasar.

Didalam bermain politik praktis, mereka punya cara yang terukur dan teruji bagi kadernya. Bahkan pentolan partainya berhasil masuk kampus dan mempengaruhi mahasiswa dengan berbagai janji, dengan mulut manis, tapi ujungnya berbisa. Kalau ndak percaya bertemanlah dengan petinggi partai yang sok alim dan bermoral tersebut.

Dari sisi manajemen, petinggi partai yang jadi penguasa tersebut memang ndak mau berurusan langsung dengan anak buahnya, terutama masalah upeti dan bahkan bagi kadernya yang berhasil duduk di lembaga dewan, katanya uangnya langsung di potong sekitar 30 persen.

Secara partai, memang cara dan strateginya menjaring kader memang terukur dan terprogram. Bahkan, bagi kader yang diusungnya untuk menjadi anggota dewan, selain berdasarkan arus dukungan pemilih, juga tergantung dengan loyalitas dengan patai. Yang hebanya lagi, semua calon anggota legislatif, bisa dikatakan tak perlu modal besar, karena semua kebutuhan dalam kampanye di dukung keuangan dana partai. Begitu juga dengan para calon eksekutifnya. Jadi wajar juga kalau si calon berhasil menjadi anggota dewan, diwajibkan menyetorkan pendapatannya sekitar 30 persen tersebut.

Begitu si calon berhasil meraih kekuasaan, semua proyek katanya akan diambil semuanya oleh kader partai untuk kepentingan partai. Jadi wajar saja jika ada rekanan kontraktor tak kebagian kue proyek selama kader partai ini berkuasa. Kalau ndak percaya coba bertanya kepada para kontraktor yang tak kebagian kue proyek selama petinggi partai ini berkuasa.

Yang hebatnya lagi, semua kepala dinas secara kebijakan seakan-akan diberikan kekuasaan penuh dalam menentukan rekanan proyek pemenang teder. Tapi faktanya, semua kepala dinas itu hanya bagaikan boneka bernyawa. Kalau ndak percaya tanya dengan mantan kepala dinas, sebelum kedua penguasa ini berkuasa.

Kini konon katanya, tukang pegang uang dari fee proyek telah terendus oleh anggota KPK. Tapi, sampai sekarang memang belum satu pun penguasa yang punya robot ini terjaring atau tertangkap dan jadi penghuni jeruji besi di Ranah Minang ini.

Tapi yang jelas “permainan kotor” ini telah menjadi gunjingan para kontraktor di Ranah Minang ini. Kalau ndak percaya, coba bertanya dengan rekan yang ndak separtai dengan mereka. So pasti sansaro. Mari kita buktikan bersama (Penulis wartawan tabloidbijak.com dan padangpos.com)

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *