LSM Mamak Nilai Pembukuan Kuangan KPN Dinkes Pasaman Bermasalah

BIJAK ONLINE (Pasaman)—Administrasi sinpan pinjam di Koperasi Pegawai Negeri Dinas Kesehatan Kabupaten Pasaman sangat patut dicurigai. Kenapa? Karena pembukuannya tak profesional dan disinyalir ada permainan antara bendaharanya dengan yang meminjam.

“Masa iya, pinjaman dana senilai Rp 20 juta tanpa materai dan hanya melalui bendahara saja, tanpa persetujuan ketua,” kata Ketua Tim Investigasi LSM Mamak Ranah Minang, Jamalus Datuk Rajo Balai Gadang ketika dihubungi Tabloid Bijak, minggu lalu.

Menurut Jamalus, kalau dilihat dari fakta pinjaman uang terhadap salah seorang pegawai Dinas Kesehatan tersebut, jelas diduga laporan keuangannya bermasalah dan patut dicurigai dan dipermasalahkan. “Yang jelas kini kami di LSM Mamak sedang mengumpulkan berbagai bukti dan info tentang laporan keuangan Koperasi Pegawai Negeri Dinas Kesehatan Pasaman tersebut. Bahkan, kita telah bentuk tim investigasi,” katanya.

Berdasarkan pengakuan Efi Susanti kepada LSM Mamak, dirinya waktu itu meminjam uang koperasi sebesar Rp 20 juta dan uang itu diserahkan bendahara koperasi waktu itu, Tety Husnanni, di bulan oktober 2016. “Kemudian Maret 2018, saya bermaksud melunasi hutang tersebut, karena saya berencana akan pindah tugas dari Kabupaten Pasaman ke Kota Tanjung Pinang Kepulauan Riau. Tapi saya kaget dan tak bisa menerima, karena utang saya dikatakan bendahara Rp 30 juta,” kata Efi.

Kemudian. kata Efi lagi, dirinya mensiyalir kwitansi pinjamannya dirubah oleh bendahara koperasi, dari jumlah penjaman Rp 20 juta menjadi Rp 30 juta. “Ini bukti kwitansi yang telah dirubah oleh bendahara tersebut,” katanya sembari memperlihatkan bukti kwitansi tanpa materei tersebut.

Sebagai anggota koperasi yang pindah tugas kata Efi, dirinya sudah beriktikad baik untuk menyelesaikan hutang piutangya di koperasi. Kenapa? karena dirinya mau pidah tugas dan persoalan koperasi haruslah diselesaikan. “Tapi faktanya bendahara koperasi seakan sengaja mempersulit dan memanfaatkan keadaan. Bahkan utang saya disebutkannya Rp 94 juta, tapi tak ada fakta ,” kata putri Bungsu Haji Selon yang sudah almarhum ini.

Yang anehnya lagi, kata Efi Susanti, Ketua Koperasi Pegawai Negeri Dinas Kesehatan Kabupaten Pasaman yang dipimpin Afrizal, terkesan tidak memperlihatkan iktikad baiknya. Bahkan, terlihat ikut mempersulitnya dan juga meminta dirinya cukup melunasi utang Rp 80 juta saja. “Persoalan utang saya di koperasi ini sudah saya coba untuk melaporkannya di Polres Pasaman, tapi sayangnya tak digubris dan tak diproses,” katanya.

Beberapa hari kemudian, dirinya melaporkan kejadian tersebut kepada Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Pasaman dan selanjutnya diadakan rapat kembali bersama beberapa pengurus koperasi. “Saat rapat tersebut, bendahara koperasi menyatakan hutang piutang yang harus saya lunasi menjadi Rp 74 juta. Jumlah utang saya berubah lagi dan saya berpikir apa sebenarnya yang di inginkan oleh pengurus koperasi dan ketua koperasi ini, olah-olah mereka menghambat proses kepindahan saya,” katanya.

Kesannya kata Efi, baik bendahara maupun staf koperasi beserta ketua koperasi terkesan selalu mengelak untuk menyelesaikan hutang piutang dirinya. “Saya duga pasti ada sesuatu yang ingin mempersulit kependahan saya,” katanya, sembari menyebutkan, proses surat pindahnya juga tak diproses oleh Kepala Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Propinsi Sumatera Barat.

Sementara Ketua Koperasi Dinas Kesehatan, Afrizal, ketika dihubungi melalui telepon selulernya tak merespon. Di SMS belum dibalas. (PRB)