Catatan Yal Aziz: Memanfaatkan Perantau untuk Promosi Wisata Sumbar

RASANYA, komentar Wakil Gubernur Sumbar, Nasrul Abit usai melantik Ikatan Keluarga Minang Saiyo (IKMS) Provinsi Bali periode 2018-2022, di GSG IKMS Bali, Minggu, 25 Maret 2018 lalu, tentang pariwisata Sumatera Barat, perlu jadi acuan, dan renungan, serta pemicu untuk lebih mengembangkan dunia pariwisata. 
Waktu itu, Wagub Sumbar, Nasrul Abit, mengajak para perantau Minang yang ada di Provinsi Bali untuk ambil bagian dalam mengembangkan pariwisata di kampung halaman. Kenapa? Karena Provinsi Bali yang menjadi tempat tinggal para perantau Minang saat ini, dikenal sebagai daerah yang memiliki destinas wisata yang mampu bersaing ditingkat internasional. Alasannya, setidaknya, perantau Minang yang ada di Bali ini tahu bagaimana cara mengembangkan wisata yang ada di Sumatera Barat. 
Kemajuan pembangunan Sumbar yang ada saat ini, menurut Wagub, tidak terlepas dari semangat kebersamaan antara masyarakat dengan seluruh stekholder Sumbar yang ada di daerah maupun di rantau. Kini tinggal bagaimana mengimplementasikannya dalam memajukan nagari, memajukan pembangunan Sumbar, khususnya pariwisata.
Kini kita tidak mungkin lagi menutup diri dalam memajukan pembangunan daerah. Bantuan banyak pihak, pemerintah pusat, para investor termasuk dari perantau, amatlah sesuatu yang penting saat ini, termasuk masalah pariwisata.
Kemudian, bagaimana pengurus IKMS Provinsi Bali yang baru, bisa mempererat silaturahmi dan bisa mengkoordinasikan serta merangkul seluruh panguyuban yang berasal dari masyarakat Minangkabau. Khusus bagi pengurus IKMS Bali yang berasal dari Sumbar, semoga selalu menjadi masyarakat yang baik, tertib, dan terus meningkatkan partisipasinya dalam memajukan pembangunan daerah Bali sebagai semangat dima bumi dipijak, di situ langit dijunjung.
Begitu juga dengan daerah rantau orang Minang lainnya, seperti DKI, Yogyakarta, Jawa Timur, Jateng dan Jawa Barat. Begitu juga dengan perantau yang ada di Sulawesi, Kalimnatan dan Papua. 
Selanjutnya, perlu juga jadi pemikiran bagi para pengusaha Minang untuk menjalin komunikasi bisnis yang saling menuntungkan. Sebagai contoh masalah luliner rendang yang kini sedng giat-giatnya di promosikan oleh berbagai pihak dan termasuk pemerintah Sumatera Barat sendiri. Apalagi lagu rumah makan lagi bomming di berbagai belahan dunia.
Selanutnya, tak ada salahnya uga jika peguyuban Gebu Minang duduk satu meja dengan Gubernur Sumatera Barat dan jajarannya dan bila perlu ajak sekalian para bupati dan walikota, untuk membangun jaringan bisnis dengan parantau Minang di belahan dunia dan nusantara. Caranya, bisa saja Gubernur Sumatera Barat menunjuk salah satu dinasnya untuk mengurus dialog dan kerjasama dengan para perantau. 
Tujuan dialog dan berdiskusi, bagaimana caranya menjalin kerjasama yang saling mengutungkan antara pemerintah dan pengusaha untuk memasarkan produksi dari Sumatera Barat keberbagai belahan dunia. Seperti Batik Tanah Liek dan Sulam Pandai Siket, serta songkek Silungkang. 
Kemudian, tak ada salahnya juga Gubernur Sumatera Barat memberikan tugas kepada DInas Koperasi untuk menjajaki format kerjasama dengan seluruh koperasi yang di Sumatera Barat dan diberbagai daerah rantau. Tujuannya, agar koperasi sebagai perpanjangan tangan dinas koperasi untuk menghimpun semua koperasi untuk bersatu memproduksi berbagai hal sesuai dengan potensi masing-masing daerahnya. 
Khusus untuk dunia wisata, juga tak ada salahnya juga Kepala DInas Pariwisata membangun sinergi dan kerjasama dengan berbagai pihak, seperti perhotelan, travel dan bisnis lainnya yang ada kaitannya dengan dunia pariwisata. Semoga (Penulis waratwan tabloidbijak.com)