Catatan Fahri Hamzah: Bangsa Ini Butuh Ustadz Abdul Somad

BAGIAN dari kekecewaan kita kepada pemerintah ini adalah karena ulama moderat seperti Ustadz Abdul Somad seperti dipaksa menjadi radikal dengan membiarkan kelompok radikal menyerangnya tanpa alasan. Lalu mereka dilindungi.

Ustadz Abdul Somad bukan saja ulama tetapi suara daerah. Alasan untuk menghadirkan beliau di tengah bangsa kita adalah darurat di tengah sekelompok lobby untuk memarginalkan daerah dan juga memarginalkan suara agama yang moderat. Mereka adalah kekuatan adu domba.

Meski belum pernah ketemu beliau, tapi saya juga terkesan dengan Ustadz Abdul Somad yang hadir pada saat yang sangat penting bagi bangsa kita. Kita lagi lupa sejarah, lupa agama, lupa budaya dan lupa jati diri. Kita perlu Ustadz Abdul Somad.

Ustadz Abdul Somad adalah jangkar NKRI. Dia mengingatkan kita bahwa di Indonesia ini ada Melayu, Riau dan Kesultanan Siak Indragiri yang masyhur. Tak akan ada NKRI tanpa itu semua.

Ustadz Abdul Somad berada dan berasal dari Riau daratan, yang secara teritorial merupakan eks Kesultanan Siak Sri Inderapura. Ini adalah kesultanan yang memiliki pertalian dengan Kesultanan Johor, yang kini menjadi bagian dari Malaysia.

Ustadz Abdul Somad adalah keturunan orang terhormat dan Datok/Atok dari Ustadz Abdul Somad adalah Tuan Guru Syekh Silau dari Kesultanan Asahan, Sumatera Timur (kini Sumatera Utara). Kesultanan yang roboh pada tragedi pembantaian 1946.

Sementara itu, Sultan Asahan pertama berbinkan (berketurunan langsung) kepada Sultan Iskandar Muda, yakni Sri Paduka Sultan Abdul Jalil I bin Almarhum Sultan Iskandar Muda Johan Berdaulat.

Ustadz Abdul Somad diterima secara meluas karena salah satu faktorya karena dia berdiri di atas kemelayuan yang sudah meluas. Ciri utama Melayu adalah berazaskan Islam, berbahasakan Melayu, beristiadatkan Melayu.

Tamadun (peradaban) Melayu, sendi-sendi kebudayaan Melayu, bertiangkan pada Islam. Ia berbeda dengan entitas lain yang kulturnya masih bersifat dialog, memilih, atau bahkan mempertentangkan, dengan Islam. Ia pada mulanya adalah kekosongan.

Karena itu, maka sesungguhnya batallah segala kebiasaan jika ia bertentangan dengan Islam. Jiwa Melayu diisi oleh Islam. Dan ia memeluknya hingga bersebati, bersenyawa bagai zat dengan bendanya.

Persebatian ini bisa dilihat dari ikrarnya, yakni “Adat bersendikan syara’ dan syara’ bersendikan kitabullah”. Ikrar ini pun hadir di tanah kesultanan kami Sumbawa, yakni “Adat barenti ko syara’ ke syara’ barenti ko kitabullah”.

Dan inilah yang membuat Melayu meluas, dengan bahasanya yang telah diisi oleh worldview Islam. Ia bagaikan makhluk dari zaman kuno. Segala jejaknya, terutama bahasa, masih terasa hingga hari ini. Namun eksistensinya kerap dinegasikan.

Tak hanya eksistensinya yang kerap dinegasikan, tetapi juga dengan seluruh sumber daya alamnya. Bertahun-tahun masyarakat muslim menantikan hadirnya suatu keadilan. Yang paling mencolok adalah persoalan sumber daya alam, seperti minyak.

Dan pada persoalan ketidakadilan inilah Ustadz Abdul Somad kerap hadir dan melantangkannya. Beliau adalah tadzkirah atau peringatan bagi bangsa ini untuk kembali pada kesejatian jadi diri dan warisan leluhur kita.

Mari kita saling mengenal dan tidak melupakan sejarah. Waspadalah bangsaku, Jangan mau diadu domba. (dari twit @Fahrihamzah 12-12-2017) (Fahri Hamzah Wakil Ketua DPR RI)

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *