Rawan Longsor, Warga Mulai Khawatir Melintasi Ruas Jalan Painan-Batangkapas

Sejumlah warga terjebak macet di kawasan Bukit Ransam
BIJAK ONLINE (PAINAN)-Sejumlah pengendara kini mulai khawatir melintasi ruas jalan Painan-Batangkapas akibat pengerjaan proyek jalan nasional yang rawan longsor.
Aprizal (48), salah seorang sopir travel mengungkapkan di sepanjang ruas jalan itu banyak tebing bukit yang curam, sehingga beberapa diantaranya ada yang sudah longsor. “Kita tidak tau nanti tiba-tiba sudah longsor saja. Yang saya khawatirkan adalah keselamatan penumpang,” kata Aprizal pada Bijak Online di Painan, Kamis (30/11).
Tak hanya Aprizal, Sumarni (53), warga Taluak Kecamatan Batangkapas mengaku trauma melewati ruas jalan tersebut.
Sebab, dirinya melihat langsung bukit bekas galian proyek di Kawasan Bukit Ransam yang longsor. 
Bahkan, ia sempat terjebak beberapa jam ketika hendak menuju ke Painan. Hal serupa juga disampaikan Ridwan (36), salah seorang warga Inderapura yang hendak ke Pekanbaru. “Jadi, kami berharap adanya perhatian dari semua pihak terkait. Apalagi saat ini sedang musim penghujan,” ijar Ridwan.
Seperti diberitakan Bijak Online pada Rabu 29 November 2017, Pemerintah Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat meminta Satuan Kerja Balai Besar Jalan Nasional Wilayaj V bertanggungkawab terkait longsor di kawasan Bukit Ransam, Painan Selatan.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Prinurdin menyampaikan longsor terjadi akibat pengerukan tebing bukit dari pengerjaan ruas jalan Painan-Kambang. “Saya tadi malam sudah telpon pejabat Satker dan Dinas Pekerjaan Umum di Padang terkait hal itu,” kata Prinurdin pada wartawan di Painan, Rabu (29/11)
Longsor terjadi sekitar pukul 11.00 WIB, Rabu 29 November 2017. Berdasarkan informasi dari salah seorang warga yang melintas di kawasan itu, longsor datang dari bekas pengerukan bukit yang dilakukan kontraktor.
Akibat dari tumpukan material longsor menjadikan arus lalu lintas dari Painan menuju Batangkapas dan Batangkapas menuju Painan sempat terhenti beberapa jam.
Selama ini, lanjut Prinurdin, kegiatan yang dilakukan kontraktor proyek ruas jalan nasional itu terkesan asal-asalan saja. 
Ia mencontohkan, kontraktor sering memarkir alat berat yang digunakan di sembarang tempat, sehingga memicu kemacetan.
Selain itu, tak sedikit bekas penggalian yang ditinggalkan begitu saja. Akibatnya, sisa tanah galian tersebut turut menutup badan jalan. “Nah, sering terjadi musibah, kan? Tak hanya longsor, tapi juga pernah merenggit korban jiwa akibat kerja yang asal-asalan,” ujarnya.
Karenanya, pemerintaj daerah meminta pada kontraktor agar pekerjaan yang dilakukan tidak meinggalkan persoalan baru bagi masyarakat.
Selain itu, meminta pada lonsultan untuk melakukan pengawasan dengan baik. “Jangan mentang-mentang tenggat waktu kegiatannya hampir habis, kerja sembarang jadi saja,” tutupnya (Teddy Setiawan).

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *