Catatan Risko Mardianto: Wartawan, Kartu Pers dan Senioritas

BELUM lama ini saya berangkat ke Alahan Panjang Kecamatan Lembah Gumanti Kabupaten Solok, salah satu nagari yang berada didaerah kutub tak bersalju. Tujuan saya adalah mencari informasi dan mencari data harga bawang ke lapangan. Hal ini sengaja saya lakukan karena sudah lama sekali saya mendengar kalau harga tanaman holtikultura itu anjlok dan petani merugi bahkan ada yang tidak membawa pulang bawang kerumah mereka akibat gagal panen. Kata salah seorang petani sudah 3 kali masa panen bawang dengan harga yanh jauh dibawah Rp.10.000,-/Kg. Selain Nagari Alahan Panjang, saya juga turun langsung ke Padang Laweh, Lipek Pageh, Parak Tabu, Sungai Nanam hingga Rimbo Data. 
Didalam perjalanan, usai mengambil data dan dokumentasi serta wawancara dengan beberapa petani dari keltan yang saya temui, saya sempat bertemu dengan salah seorang anggota masyarakat yang mengaku sebagai seorang wartawan di media nasional. Sambil menyeruput kopi dikedai yang tidak jauh dari lahan pertanian masyarakat itu dengan tidak sengaja mendengar percakapan si wartawan media nasional ini. “Tenang, pak. Nanti pemberitaan aman,”ucap wartawan dengan suara meninggi kepada seseorang yang memakai pakaian khas pegawai negeri yang duduk disampingnya. 
“Saya sudah ditanya oleh Pimpinan Redaksi kapan mau ngirim beritanya, tinggal deal kita saja,”lanjutnya sembari memperlihatkan pesan yang mungkin saja dari orang yang mengaku sebagai Pimpinan Redaksi media nasional tersebut. 
“Aman, asal saya tidak bisa diamankan tolong ekspose yang positif dan bagaimana saya bisa terkesan seolah-olah saya pahlawan disini,”ucap orang yang memakai pakaian model pegawai itu tadi. 
“Baik, bapak sanggup bayar berapa,” sambung si wartawan. 
“Memangnya berapa?,” tanya oknum itu.
“Media saya nasional pak, satu pariwara itu bisa lebih 10 Juta. Sekarang bapak sanggupnya berapa, nanti akan saya sampaikan ke pimpinan saya,” jawab si wartawan dengan wajah berharap.
“Saya bayar 10 Juta tapi usai berita naik, ya?,”jawab oknum pegawai itu lagi. Saya berfikir, ini barangkali oknum yang mau namanya diangkat atau memang tersangkut persoalan yang bisa membuatnya terdepak dari jabatan di kantor tempat ia bertugas serta mau membayar berapapun kepada wartawan. 
“Wah, kalau dimedia saya harus bayar dulu pak,” jawab si wartawan.
“Baik, sebentar lagi akan saya serahkan uangnya. Silahkan diminum kopinya, nanti keburu dingin,” ucap oknum pegawai. 
“Deal, terimakasih pak,” kata si wartawan sambil berjabat tangan dengan orang berkumis tebal memakai pakaian serba mewah itu. 
Saya yang memang duduk bersebelahan dengan mereka tentu spontan saja mendengar ucapan keduanya. Saat itu, oknum yang saya duga sebagai seorang pegawai itu menanyakan pada si wartawan tentang track recordnya melakukan kegiatan jurnalistik. Si wartawan dengan nada sedikit tinggi mengatakan sudah banyak memberitakan kasus-kasus di media nasionalnya. Bahkan, saat dirinya menayangkan berita ke media tidak boleh ada wartawan lain memberitakan hal yang ia beritakan. “Saya senior, sudah lama jadi wartawan. Kalau sudah naik dimedia saya yang junior tidak boleh menaikan berita tentang itu dimedianya,” jawabnya pongah. Didalam hati saya tertawa saja. 
Saya yang juga seorang wartawan dan Kepala Biro Wilayah II Tabloid Bijak mencoba menelusuri keberadaan media nasional yang disebutkan oknum wartawan itu tadi melalui internet, maklum saya bau mendengar nama media yang disebutkannya. Sebagai wartawan yang bukan di media nasional saya cukup bangga ada wartawan yang dengan luar biasa dan semangat bergelora membesarkan nama media tempatnya berkarya. Akan tetapi, saya sedih ketika oknum wartawan menjual harga diri hanya demi rupiah. Usut punya usut, saya tidak menemukan media yang disebutkan oleh oknum wartawan itu tadi. 
Meskipun berselancar di internet adalah salah satu rutinitas saya yang hampir saya lakoni setiap hati membuat saya berfikir dan bertanya-tanya dimana pula itu media nasionalnya. Sampai berkali-kali berselancar di Internet mencari media nya tetap tidak saya temukan. 
Kejadian yang sama, tepatnya rasa bangga mengaku wartawan dan punya kartu pers memang kerapkali terjadi. Bahkan ada juga yang sedikit menjengkelkan dan merisukan. Pimpinan Redaksi Tabloid Berita Editor Rhian D’Kincai pernah menulis tentang pengalamnya menghadapo pejabat yang menolak dikonfirmasi soal kegiatan pembangunan di Kota Solok April 2017. Melalui tulisannya berjudul “Wartawan, Kartu Pers dan kebangaan Semu” dirinya mengungkapkan pengalamannya dan rasa kerisauan terhadap kehidupan pers akhir-akhir ini.
Diakuinya, saat ini dengan mudah siapapun bisa mengaku sebagai wartawan hanya dengan mengantongi sebuah kartu pers. Mungkin karena sekampung atau dengan alasan lain yang menguntungkan, sang pemimpin redaksi memberikannya kartu pers dan mencantumkan nama si pejabat dalam boks redaksi media yang dipimpinnya, walau si pejabat itu tak pernah menulis lagi, apalagi membuat berita yang menjadi tugas pokok seorang wartawan.
Sudah menjadi rahasia umum kalau kini tak susah mendapatkan Kartu Pers. Tidak seperti saya yang dulu ditanya tulisan oleh Pimpred dan merevisi jika belum sesuai aturan serta banyak sekali test agar tulisan saya layak ditayangkan di media. Lalu, jika hanya sebagai wartawan yang tidak memiliki media dan memang tidak pernah menulis untuk apa kartu pers itu baginya karena dia sudah pasti tidak akan menjalani tugas jurnalistik sebagaimana wartawan sesungguhnya. Untuk menakut-nakuti wartawan nakalkah? Sedihnya lagi, saat ucapan senioritas didengungkan oleh wartawan yang tidak pernah menukis berita sekalipun tadi. — Penulis adalah Wartawan Media Online Tabloid Bijak

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *