Catatan Yal Aziz: Dima Karajo Da, di KONI Diak (Bagian ke-2)

KEESOKAN harinya, sekitar pukul 09.00 WIB, si mahasiswi mencoba untuk chating dengan kenalannya yang mengaku pengurus KONI tersebut.

“Mat pagi uda sayang dan mat hari minggu, dan semoga uda sayang sehat-sehat se,” kata si mahasiswi itu iseng di pagi hari minggu itu.

Rupanya, tanpa disangka sebelumnya, muncul jawaban;”Mat pagi juga adiak cantik, dan mat berhari minggu juga dan kama rencana berlibur hari minggu diak cantik,” kata si pengurus KONI dengan bahasa rayuan pulau kelapa.

Wow, dijawab rupanya;”Rencana ka pai katampek uda sayang, untuk berkenalan darat, kan lah buliah uda sayang,” balas si mahasiswi yang kegirangan, yes, yes.

“Mantap lah nyo diak cantiak dan adiak cantik dima kini,” balas si pengurus KONI lagi.

“Masih dirumah kost uda sayang, dima kito bisa sobok uda sayang,”  rayu si mahasiswi kepada pengurus KONI yang mengaku duda.

“Uda di kantor KONI kini adiak cantik, datanglah kasiko,” balas sipengurus KONI sembari menawarkan pertemuan.

“Kini hari minggu mah uda sayang, kok masuk kantor juo uda sayang. Rajin bana uda mah yo dan siapo-siapo se yang ado dikantua KONI tu kini uda sayang,” kata si mahasiswi yang bernama Tuti Aniasko tersebut.

Kemudian si pengurus KONI tu menyebutkan kalau dirinya sudah dari pukul 07.00 WIB dikantor KONI. “Dari pada bamanuang dirumah diak, rancaklah di kantua KONI yang pakai AC, televisi dan CCTV yang bisa melihat dan memantau siapa saja yang datang ke kantor KONI.

“Wah, wah rancak kantua uda sayang mah yo, pakai CCTV gai. Pantas lah uda sayang rajin masuak kantua, walaupun hari kini minggu,” kata Tuti Aniako sembari menyatakan kesediannya bertandang ke kanor KONI;”Lai aman kalau adiak ka katua uda sayang kini,” celetuk si mahasiswi yang berambut sebahu dan bahenol ini.

TANPA diduga, si mahasiswi tu memang datang ke kantor KONI sendirian dengan memakai bajo kaos oblong merah dan celana jean ketat, sehingga terlihat likuk-likuk tubuhnnya yang seksi. Setelah membayar go-jek, terlihat si mahasiswi masuk ke teras depan kantor KONI dan tanpa diduga pula, si pengurus KONI sudah menunggunya di dekat pintu.

Seusai keduanya bersalaman, langsung menuju lantai dua. Sesampai di lantai dua di Tuti Anisko duduk di kursi yang memang telah disediakan sebelumnya oleh si pengurus KONI yang bersebelahan tempat duduknya.

“Adiak cantik mau minum apo,” tawar pengurus KONI sembari menyodorkan beberapa jenis makanan dan permen yang sudah ada di atas meja kantor KONI tersebut.

“Air putih saja uda sayang dan pengurus yang lain mana uda sayang,” kata si Tuti Aniasko sembari mengambil permen.

“Kalau hari minggu, hanya uda saja yang masuk kantor, yang lainya libur,” kata si pengurus KONI sembari meletakan air mineral dan sprit dan coca cola yang diambilnya dari dalam kulkas yang memang sudah tersedia berbagai jenis minuman kaleng.

Sembari meminum air meniral, mata si Tuti Aniasko selalu tertuju pada layar CCTV yang ada di Kantor KONI tersebut. Dari layar CCTV terlihat dengan jelas beberapa titik, seperti halaman parkir dan beberapa ruang kerja pengurus KONI.

“Makan lah kuenyo Diak cantik dan dima kampuang diak dan lah tahun bara kini diak cantik,” sapa pengurus KONI dengan tujuan mengalihkan pandangan mata si Tuti Anisko dari layar monitor CCTV.

“Yo uda sayang. Hebat uda sayang yo, kantuanyo pakai CCTV dan ruangannyo ber-AC dan ada lo televisi, dan bara urang anak buah uda sayang ko,” kata Tuti Aniasko sembari mengambil minuman kaleng sprit untuk diminumnya.

Dengan gaya pengusaha bonafit, si pengurus KONI menyebutkan, kalau anak buahnya di sekretariat tujuh orang dan kalau dipengurusan KONI kalau ndak salah 65 orang. “Tapi Diak cantik, tanyo uda alun dijawab lai, tentang dima kampuang dan tahun bara kuliahnyo kini.”

“Oh iyo uda sayang, maklum lah uda sayang dek adiak baru sakali ko masuak kantua yang ruangannyo gadang dan ber-AC dan pakai CCTV lo. Jadi bisa tahu sia se nan datang ka kantua KONI ko. Oh iyo, masalah kampuang,  adiak urang Nias uda sayang dan tentang kuliah tahun akhir dan kalau bisa wisuda tahun ko juo,” jawabnya dengan menggeser duduknya sembari membuka kedua kakinya, sehingga terlihat selangkangannya.

Mendapat jawaban si Tuti Aniasko, kalau dirinya urang nias, terlihat pengurus KONI berdiri sembari pura-pura melihat berkas diatas mejanya sembari mengambil sebuap map yang berisi surat lamaran kerja.

“Jadi adiak cantik urang nias yo dan siapo dunsanak yang ado di Kota Padang ko dan uda banyak tahu dengan orang nias yang tinggal di Padang ko,” kata pengurus KONI tersebut sembari meminum air meniral.

Kemudian si Tuti Aniasko menjelaskan, kalau dirinya tak punya sanak family di Kota Padang. Katanya, dirinya langsung diantarkan kedua orangtuanya ke Kota Padang, karena dirinya termasuk salah seorang mahasiswa undangan dari Kepulauan Nias, Sumatera Utara.

“Kata papa dan mama, urang Nias banyak juo yang hebat-hebat di Kota Padang ko yo Uda sayang. Bahkan, kata mama, lifer angkat berat 12 kali juara dunia urang nias, apo batua tu uda sayang,” kata Tuti Anisko sembari menatap wajah si pengurus KONI.

“Kalau urang Nias di Padang ko adiak cantik, memang banyak dan lah baranak pinak dan bahkan urang Nias lah bisa pulo dikatokan uang asli Padang ko mah adiak cantik, dek lah dari kakek dan kakeknyo tingga di Kota Padang ko,” kata pengurus KONI sambil tersenyum. BERSAMBUNG (Penulis feature ini wartawan tabloid bijak dan padangpos.com)

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *