Catatan Drs. Mukhlis Denros dari Tanah Suci: Sudah Benarkah Ibadah Haji Kita?

SUATU kebahagiaan bagi seorang muslim ketika ada pemberitahuan  dari petugas haji di kantaor kemenag untuk menunaikan ibadah haji, sehingga semua berkas harus dipenuhi dan pelunasan harus dibayar melalui bank masing-masing, dapat dipastikan dengan izin Allah si Pulan berangkat haji tahun ini.
Berita ini pun secara bertahap akan diketahui oleh keluarga, teman, sahabat, kerabat dan tetangga. Acara pelepasan pun dimulai dikeluarga masing-masing dengan mengadakan kenduri, mengundang minimal pengurus dan jamaah masjid untuk makan bersama.
Setiap jamaah calon haji diprogram oleh petugas haji kemenag untuk mengikuti acara Manasik Haji dengan berbagai materi pembelajaran, dengan narasumber yang beragam tentu beragam pula ilmu yang diserap oleh jamaah calon haji, sehingga setiap jamaah calon haji sejak dari berangkat dari rumah menuju asrama haji hingga terbang ke Mekkah atau Madinah sudah punya azam (tekad) yang kuat untuk menunaikan rukun islam kelima ini dengan sebaik-baiknya walaupun prakteknya ibadah yang dilakukan itu bercampur-baur antara sunnah dan bid’ah, walaupun ada yang membungkus dengan istilah khilafiyah.
Ada beberapa catatan yang perlu disikapi bagi jamaah haji sebagai sarana evaluasi diri, dari tulisan yang sangat ringkas. Tulisan ini tidak memuat dalil sebagai hujjah, tapi penting, inshaa nanti akan diperbaiki dengan  dalil dari Al-Qur’an, hadist dan pendapat para ulama.

1. Minta Oleh-oleh
Dalam pergaulan sehari-hari dianggap lumrah bila saudara, sahabat dan handai taulan minta oleh-oleh kepada orang yang akan mengadakan perjalanan apalagi menunaikan ibadah haji  walaupun hanya sekedar bercanda, tapi akhirnya jadi beban bagi orang yang pergi menunaikan ibadah haji ,sehingga fokus ibadah haji terganggu ditambah dengan beban membeli oleh-oleh. Rasulullah melarang kepada ummatnya yang meminta oleh-oleh tapi kalau diberi oleh-oleh sebaiknya diterima.
2. Mohon Didoakan.
Sesuatu yang lumrah juga bila orang minta didoakan oleh calon jamaah haji karena tanah suci tempat yang maqbul doa dikabulkan, tapi doa yang diminta banyak orientasinya dunia seperti supaya banyak rezeki, bisnis lancar, cepat diberi jodoh, naik pangkat, sukses dalam pilkada dan berhasil jadi caleg. Rasul dan para sahabat juga selalu saling minta didoakan tapi lebih cendrung kepada urusan akherat diantaranya agar diberi taufiq, hidayah, mahgfirah dan rahmat.
Terkesan jamaah haji itu tukang sampaikan doa pesanan kepada Allah, padahal Allah telah mengajarkan kepada kita, berdoalah kamu kepada-Ku  niscaya Ku kabulkan, siapa saja kita dan dimana saja disuruh untuk berdoa, Rasulullah menyebutkan dalam sabdanya, orang yang selalu berdoa dalam kondisi baik maka akan dikabulkan doanya ketika dalam kesusahan, namun yakinlah semua jamaah haji mendoakan kita semua di tanah suci.

3. Shalat Safar.
Ketika akan meninggalkan tanah air banyak tuntunan yang diterima oleh calon jamaah haji ketika manasik, diajarkan berbagai doa dan zikir, selama hal itu sesuai dengan sunnah Rasulullah sangatlah baik tapi ketika tidak sesuai dengan sunnah Nabi maka wajib ditinggal.
Shalat safar ketika mau berangkat ke tanah suci tidak ada sumber yang shaheh menyebutkan itu.
4. Shalat ketika Ihram.

Ketika memakai pakaian ihram maka diwajibkan untuk berniat umrah/ haji, tentu niatnya didalam hati masing-masing dan meninggalkan segala hal yang dilarang dalam ihram. Mengawali ihram dengan shalat dua rakaat tidak ada petunjuk Rasulullah.
4. Pakaian Ihram untuk  Thawaf dan Sai.
Pakaian ihram itu ada yang diselempangkan dengan membuka bahu bagian kanan, ini hanya dipakai ketika thawaf saja, sedangkan setelah itu pakaian ihram menutup kedua bahu, banyak jamaah haji yang tidak tahu sehingga ketika sa’ipun mereka membuka bahu bagian kanannya.
5. Umrah berkali-kali.
Setelah menunaikan ibadah haji, mumpung masih di tanah suci ada jamaah haji melalukan umrah sunnat, padahal Rasulullah tidak pernah mengajarkan hal ini, yang benar adalah boleh thawaf sunnah berulangkali tapi umrah tidak, sejarah mencatat, Rasulullah dua kali umrah dan sekali haji, dalam waktu yang berbeda dan tidak melakukan umrah sunnat dalam melaksanakan ibadah hajinya.
6. Ziarah.
Rasulullah menyunnahkan kepada kita untuk menziarahi hanya tiga masjid yaitu Masjidil Haram, Masjid Nabawi dan Masjid Aqsa, dan masjid Quba bagi mereka yang muqim di Mekkah dan Madinah, masing-masing masjid tersebut mempunyai nilai-nilai yang tinggi bagi mereka yang menziarahinya apalagi shalat di dalam masjid itu, sedangkan masjid lain tidak ada tuntunannya untuk diziarahi apalagi shalat dua rakaat  didalamnya  kecuali ketika menziarahi masjid tersebut masuk waktu shalat, maka shalatlah didalamnya.
Ada jamaah haji yang sibuk berziarah ke Bukit Uhud, Jabal Arafah, Jabal Nur dan tempat-tempat lainnya, kalau sebatas untuk mengetahui sejarah dari tempat-tempat tersebut tidaklah masalah, janganlah tempat itu dijadikan tempat keramat yang mendatangkan berkah siapa yang mengunjunginya.
7. Raudhah.
Menurut Ustadz Dr. Yusuf Al Qardhawi ada ummat islam itu yang ekstrim  artinya berlebih-lebihan, beribadah tidak sesuai dengan sunnah Nabi, hal itu terlihat ketika jamaah haji berada di Raudhah di Masjid Nabawi, yang disunnahkan hanya berdoa diantara kubur nabi dan mimbar nabi, tidak shalat di depan kubur nabi, doapun disanjungkan kepada Allah bukan kepada Rasulullah. Ada pula yang mengusap-usap dan menjangkau-jangkau mimbar dan kubur nabi dengan suara rintihan.
Jamaah haji yang bisa masuk Raudhah meskipun dengan berdesak-desakan merasa bangga dan puas rasanya hati ini sehingga disampaikan kepada jamaah yang lain, yang tidak mampu memasuki raudhah agak kecewa seolah-olah ibadah hajinya tidak sempurna, padahal tidak ada hubungannya dengan ibadah haji.
8. Shalat Arbain.
Biasanya jamaah haji gelombang awal mendarat di Madinah sebelum ke Mekkah dan gelombang kedua dan tiga yang mendarat di Mekkah setelah melaksanakan haji mereka ke Madinah dengan agenda shalat Arbain selama 40 waktu, tidak ada sumber yang shaheh tentang shalat arbain ini dan tidak ada kaitannya dengan ibadah haji, namun jamaah haji meniatkan shalat di Masjid Nabi dan tidak ada batasannya 40 waktu, karena memang bagi siapa yang shalat di masjid nabi sama nilainya dengan 1000 kali shalat ditempat lain.

9. Hajar Aswad.
Umar bin Khatab ketika thawaf dia dekati dan mencium hajar aswad lalu berkata, engkau tidak beda dengan batu-batu lainnya, kalaulah Rasul tidak menciummu maka sungguh aku tidak akan menciummu.
Banyak jamaah haji yang memaksakan diri untuk mencium hajar aswad walaupun sangat sulit untuk bisa mencapai kesana, ada yang harus terlempar dan tersandar ke dinding ka’ bah untuk mencapainya, sepulang dari itu semua tubuhnya sakit, ada yang harus membayar 50 real karena dibantu oleh oknum untuk mencium hajar aswad, sepulang dari sana bukan main senang dan bangganya menceritakan kepada yang lain, seolah-olah tuntas semuanya kalau sudah mencium hajar aswad.

10. Ka’bah
Thawaf adalah mengelilingi ka’bah sebanyak 7 kali. Suasananya sangat ramai dan padat sehingga untuk mengurangi desak-desakan ada lokasi thawaf disedia 5 lantai, tentunya radiusnya agak jauh. Ada yang menggunakan momen thawaf itu untuk menjangkau dan memeluk ka’bah dengan rintihan doa yang menghiba, adakah begitu yang diajarkan oleh Rasulullah. 
Ketika saya dan teman-teman melihat Kota Mekkah dengan taksi, sang sopir memperlihatkan secarik kain bekas pelindung ka’bah, dia tawarkan dengan harga 400 real digunakan sebagai jimat pemberi berkah.
Ini sebuah catatan dari realita ibadah yang nampak oleh penulis di tanah suci, tentu masih banyak ritual yang tidak sesuai dengan sunnah nabi yang tidak terjangkau dari pandangan penulis selain ilmu yang terbatas dan pengetahuan yang seberapa, wallahu a’lam. ( Mukhlis Denros Sutan Denak, Jamaah Haji Indonesia, Kloter 11 Embarkasi Padang, Mekkah Al Mukarramah, 22 Zulhijjah 1438.H/ 13 September 2017.M).

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *