Catatan Risko Mardianto: Harga Bawang Anjlok, Janji Bulog Hanya ‘Angin Sarugo’

BEBERAPA bulan yang lalu Pemerintah Kabupaten Solok melalui Wakil Bupati Yulfadri Nurdin, SH mengatakan Perum Bulog akan membeli bawang petani sehubungan dengan ditunjuknya Kabupaten Solok sebagai kawasan sentra bawang. 
Selain itu, Bulog berjanji akan membeli bawang petani dengan harga terendah Rp.15.000,-/kg. Tapi apa yang terjadi setelah memasuki panen raya sampai saat ini Bulog belum membeli bawang petani asal Solok dan harga bawang anjlok diangka Rp.7000,- s/d Rp.8.000,-/kg. Meskipun Wabup sudah ‘manggaleh’ bawang ke Bulog di Jakarta berulangkali namun hingga saat ini tetap saja belum mampu mengubah keadaan. 
Sejak ditunjuk sebagai kawasan sentra bawang oleh Pemerintah Pusat, petani di Kecamatan Danau Kembar, Kecamatan Lembah Gumanti, Kecamatan Lembang Jaya menggarap lahan mereka dan serentak menanam bawang, bahkan disebut-sebut satu orang petani menggarap 2 Hektar lahan untuk bertanam bawang. Hal ini didasari atas janji Bulog yang mengatakan akan membeli bawang petani itu. 
Dilansir Kantor Berita Antara 22 Maret 2017, Dinas Pertanian terus mendorong petani memperluas areal tanam, khususnya di sentra-sentra penghasil bawang terbanyak, yaitu di Kecamatan Lembah Gumanti, dengan produksi pada 2016 mencapai 43.932 ton, Danau Kembar 5.838,4 ton, Gunung Talang 1.344 ton, Lembang Jaya 4.670 ton. Kemudian juga dikembangkan di daerah penyangga untuk meningkatkan luas tanam, yakni Kecamatan Pantai Cermin dengan produksi pada 2016 sebanyak 912 ton, Payung Sekaki 862,9 ton, dan Hiliran Gumanti 418,5 ton.

Luas tanam bawang pada 2016 di Kecamatan Lembah Gumanti mencapai 3.917 hektare, Kecamatan Danau Kembar 570 hektare, Kecamatan Lembang Jaya 447 hektare, dan Kecamatan Gunung Talang 171 hektare. Pengembangan luas tanam bawang ini difokuskan di Nagari Sungai Nanam, khususnya Kecamatan Lembah Gumanti sesuai arahan pejabat Kementerian Pertanian ketika meninjau wilayah itu beberapa waktu lalu.
Produksi bawang merah pada 2015 mencapai 57.346 ton dengan luas tanam 4.898 hektare, dan luas panen 5.004 hektare. Jumlah produksi bawang ini meningkat pada 2016 menjadi 59.045,3 ton dengan luas tanam 5.518 hektare dan luas panen 5.149 hektare. Hasil produksi bawang merah ini dipasarkan ke provinsi tetangga seperti Riau, Sumatera Selatan, Jambi, dan Bengkulu.
Tidak hanya bawang merah, Solok juga sentra produsen kentang dan pada tahun 2016 memproduksi sebanyak 42.712 ton dengan luas tanam di areal 2.096 hektare. Kemudian tomat dengan produksi 54.662 ton di areal tanam 1.595 hektare, dan produksi cabai merah 18.899 ton dengan luas tanam 1.735 hektare.
Produksi bawang merah di Sumatera Barat naik sebesar 1.850,7 ton atau menjadi 54.580,9 ton periode Januari hingga Oktober 2016 dibandingkan periode yang sama pada 2015 sebesar 52.730,2 ton dan Produksi bawang merah terbesar masih berada di Kabupaten Solok, sama seperti tahun sebelumnya sebesar 52.959 ton. 

Ucapan Bulog 
Kadiver Bulog Sumbar Benhur Ngkaimi dalam kunjungan kerjanya ke nagari Rimbo Data Kecamatan Lembah Gumanti, Kabupaten Solok, Selasa (18/4) lalu mengatakan, minimal harga bawang merah perkilonya 15 ribu, supaya masyarakat petani bawang merah bisa menikmati hasil panennya.
“Saat harga kurang dari standar yang di tetapkan, maka kami akan membeli seluruh hasil panen dengan kuota yang tidak di tetapkan, dan itu untuk menghindari dari praktek tengkulak,” tuturnya.
Benhur menjelaskan, Perusahaan Umum Badan Urusan Logistik (Perum Bulog) akan mengawal harga bawang merah, agar harga bawang merah tidak terlalu anjlok. “Jikalau anjlok pihaknya akan membeli harga sesuai standar yang telah ditetapkan,” pungkasnya.
Saat ini, petani di Solok belum merasakan bawang mereka dibeli Bulog bahkan mereka dihadapkan dengan harga yang jauh dibawah Rp.15.000,-/Kg sesuai janji Bulog beberapa bulan lalu yakni berada di kisaran Rp.8.000,-/Kg. Entah kapan Bulog akan membeli bawang petani ini. Semoga Pemkab Solok segera mencarikan solusi terbaik bagi permasalahan petani bawang mengingat janji Bulog yang akan membeli bawang petani dan agar janji itu tidak sekedar ‘Angin Sarugo’ kepada petani di Solok Propinsi Sumatera Barat.–* (Penulis adalah Kabiro Wilayah II Tabloid Bijak)

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *