Catatan Noa Rang Kuranji: Demi Sukses Porprov, Pawang Hujan Jangan Sampai Lupa

BIJAK ONLINE (PADANG)-Alek Pekan Olahraga Provinsi Sumbar (Porprov) ke-XIV di Kota Padang hanya tinggal menghitung hari. Berbagai persiapan baik teknis maupun non teknis terus dimatangkan panitia agar pesta olahraga akbar dua tahunan tingkat Sumbar itu dapat berjalan sukses sesuai yang diharapkan.
Seperti merampungkan venus-venus pertandingan untuk 33 cabang olahraga yang akan diikuti sekitar 8000-an atlet, pelatih dan official dari 19 kota/kabupaten di Sumbar. Menyiapkan umbul-umbul, spanduk, baliho Porprov, penginapan atlet, ketersediaan transportasi, konsumsi hingga mempercantik Stadion H Agus Salim Padang yang akan menjadi tempat opening ceremony dan closing ceromony yang akan berlangsung dari tanggal 19 sampai 29 November 2016 mendatang.
Namun, ada sedikit yang menggelitik di hati penulis dan ini perlu penulis sampaikan demi suksesnya pelaksanaan iven olahraga bergengsi tersebut nantinya. Yakni, masalah tenaga pawang hujan. Soalnya, dalam kondisi cuaca musim penghujan yang melanda Kota Padang dalam beberapa minggu terakhir ini tentu menimbulkan kekhawatiran bagi segenap pecinta olahraga di Kota Padang. Apakah panitia sudah mengantisipasinya dari sekarang?
Dan ternyata, kekhawatiran penulis itu memang benar adanya. Setelah dicoba mengkonfirmasikannya kepada Kepala Bidang Olahraga Dinas Pemuda dan Olahraga (Kabid Dispora) Kota Padang, Salman selaku leading sektor dari kegiatan Porprov tersebut, ia mengakui memang belum ada planning dari panitia untuk menyiapkan pawang hujan tersebut.
Menurut penulis, peranan pawang hujan dalam setiap iven besar adalah sangat penting. Berharap cuaca cerah saja tanpa ada upaya untuk mengantisipasinya, penulis kira itu sebuah kecerobohan. Buktinya, beberapa kali pihak Dispora Kota Padang menggelar kegiatan di Stadion H Agus Salim Padang selama ini sering hujan secara tiba-tiba. Padahal, sebelumnya cuaca cukup cerah.
Kemudian, pengalaman acara pembukaan Porprov ke-XIII di Kabupaten Dharmasraya 2014 silam, patut dijadikan catatan dan pelajaran berharga bagi panitia Porprov Kota Padang. Ketika itu, sejak pagi hingga sore hari, cuaca di kabupaten paling timur Provinsi Sumbar itu sangat cerah dan terik sekali atau dalam istilah Minangnya “Angek Badangkang”. Keringat kita pun tak henti-hentinya bercucuran meskipun sudah dibantu dengan kipas angin saat berada di penginapan Kontingen Kota Padang yang terletak di kawasan Sungai Rumbai ketika itu.
Namun, beberapa menit menjelang masuk waktu magrib, cuaca di Kabupaten Dharmasraya tiba-tiba berubah drastis. Gumpalan awan hitam makin lama makin tebal terus menyelimuti langit Dharmasraya hingga tak lama kemudian hujan pun turun. Padahal, berdasarkan informasi yang penulis dapat, tuan rumah konon kabarnya sudah menyiapkan sebanyak tujuh tenaga pawang hujan. Tapi mereka tak beradaya walaupun sudah berusaha maksimal mengatasinya.
Ribuan penonton dan para kontingen peserta yang telah memadati stadion utama sejak siang hari mulai dibuat gelisah. Hujan pun makin lama makin lebat sehingga para penonton dan kontingen peserta berusaha mencari tempat berteduh. Barisan defile kontingen yang awalnya sudah tersusun dengan rapi, akhirnya bubar satu persatu. Sehingga yang tampak masih berdiri di tengah lapangan di bawah siraman hujan lebat hanya anggota Paskibra yang dipersiapkan panitia sebagaiu pembawa bendera masing-masing kontingen dan beberapa atlet atau official yang akan ikut defile pembukaan Porprov.
Situasi seperti itu sungguh sangat mengecewakan dan membuat malu Bupati Dharmasraya ketika itu Adi Gunawan. Sebab, di sebelahnya sudah duduk Menpora RI, Imam Nachrowi dan Gubernur Sumbar, Irwan Prayitno di tribun kehormatan. Acara serimonial pembukaan yang telah didesain dengan bagus dan sangat luar biasa menurut mereka, akhirnya buyar.
Meski sudah coba ditunggu beberapa jam, namun hujan tetap turun dengan deras. Akhirnya panitia memutuskan tetap melanjutkan acara pembukaan walaupun dalam kondisi hujan lebat. Sejumlah rangkaian acara pembukaan pun terpaksa dipangkas karena situasi sudah tidak memungkinkan lagi. Bahkan, pesta kembang api yang menelan biaya sekitar Rp100 juta pun baru bisa dilaksanakan setelah penonton mulai bubar. 
Untunglah, kekecewaan penonton dapat sedikit terobati setelah menyaksikan penampilan artis papan atas Setia Band dengan vokalisnya Charli yang menjadi idola anak muda. Para penonton yang sebagian besar generasi muda itu tanpa dikomandoi langsung berlarian mendekati panggung musik guna menyaksikan artis kesayangan mereka dari dekat. Hujan lebat pun tak mereka hiraukan lagi. Yang penting mereka bisa happy.
Nah, kalau Kota Padang tidak mau kejadian pembukaan Porprov seperti di Kabupaten Dharmasraya tersebut terulang kembali, penulis menyarankan sebaiknya dari sekarang sudah mulai disiapkan tenaga pawang hujan. Bukan apa-apa, semeriah apa pun konsep acara pembukaan yang telah disusun panitia, percayalah akan hilang dengan seketika akibat diguyur hujan lebat. Semoga saran penulis ini bermanfaat bagi kita semua. Terimakasih. (*)
(Penulis Adalah Ketua Forum Jurnalis Kota Padang)