Catatan Irwan Prayitno: Sumatera Barat Menjadi Icon INACRAFT 2016

HARI ini, Rabu, 20 April 2016,  berlangsung pameran handycraft terbesar di Indonesia, The 18th Jakarta International Handicraft Trade Fair (INACRAFT 2016), yang diadakan oleh Asosiasi Eksportir dan Produsen Handicraft Indonesia (ASEPHI) bekerja sama dengan PT. Mediatama Binakreasi.
Dalam rangka mendukung upaya-upaya strategis pelaku handicraft dalam menyongsong Era pasar bebas ASEAN, INACRAFT ke-18 hadir dengan mengusung kekayaan warisan budaya salah satu daerah Indonesia di Bagian Barat, yakni Sumatera Barat dengan mengangkat tema: The Splendour of Minangkabau. 
Kontribusi wilayah Sumatera terhadap nilai tambah sektor industri nonmigas nasional relatif cukup besar, yaitu mencapai 23,90 persen. Hal ini juga bertujuan untuk mengembangkan produk industri handicraft dalam rangka peningkatan kualitas ekspor produk kerajinan Indonesia.
Era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) pada 2015 membawa suatu peluang sekaligus tantangan bagi ekonomi Indonesia. Dengan diberlakukannya MEA pada akhir 2015, negara anggota ASEAN akan mengalami aliran bebas barang, jasa, investasi, dan tenaga kerja terdidik dari dan ke masing-masing negara yang akan sangat berpengaruh pada pertumbuhan dan pembangunan ekonomi tiap negara. 
Untuk menghadapi era pasar bebas se-Asia Tenggara itu, dunia usaha Tanah Air, khususnya Sumatera Barat tentu harus mengambil langkah-langkah strategis agar dapat menghadapi persaingan dengan negara ASEAN lainnya, tak terkecuali sektor kerajinan (handicraft). 
Para perajin, produsen, pengusaha kerajinan, dan KUKM Indonesia diharapkan mampu mengantisipasi Era Masyarakat Ekonomi ASEAN dalam memasarkan produk produk kerajinan unggulan Indonesia dengan melakukan beberapa peningkatan dalam hal kualitas pelaku usaha, efisiensi produksi dan manajemen usaha, penciptaan iklim usaha yang kondusif, serta peningkatan daya serap pasar produk lokal.