Catatan Yal Aziz: Seandainya Saya Ketua Umum KONI Sumbar Syahrial Bakhtiar

RASANYA, masyarakat Sumatera Barat, sudah tahu kalau nama saya Syahrial Aziz salah seorang wartawan dari Nagari Pauhlimo Kota Padang dan bukan Syahrial Bakhtiar, Ketua Umum KONI Sumatera Barat, yang juga mantan Kepala DInas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Sumbar.
Sebagai wartawan, saya pernah menjadi wartawan olahraga dan pernah juga meliput berita  SEA Game, di manca negara. Bahkan saya pernah juga melakukan wawancara khusus dengan Polusin pelatih asal Rusia yang melatih tim nasional PSSI mengikuti Piala Kemerdekaan di Singapura.  Kemudian, pernah juga wawancara dengan Rinus Michels pelatih asal Belanda penemu tiori “Total Football”.
Jadi, walaupun saya bukan pakar olaharaga, setidaknya saya pernah punya pengalaman meliput pertandingan olahraga multi event di luar negeri dan Pekan Olahraga Nasional (PON) di Ibukota Jakarta, termasuk kejurnas dan Porwil. Bahkan, saya pernah menjadi manejer PS Palembang, dan ketua bidang kompetisi PS Palembang. Selain tu, pernah juga mengikuti saresehan tentang KONI.
Bertitik tolak dengan pengalaman sebagai wartawan olahraga, jujur saya memang nyenyes alas nyinyir melakukan kontrol sosial, terhadap perkembangan prestasi atlet di Sumatera Barat ini. Tujuan saya nyinyir, lebih untuk mengkritisi pengurus, pelatih dan atlet, agar menuai prestasi medali. Kenapa? Karena kegagalan atlet di pertandingan sekelas PON yang merupakan pertandingan terakbar di tanah air, juga berdampak kepada sikap dan kepribadian saya. Bahkan, saya juga pernah diejek dan SEA Game,  begitu kontingen Sumbar jadi juru kunci alias nomor buncit di PON XV Jawa Timur, 2000 lalu. 
Kemudian, kegagalan kontingen Sumbar di PON XV Jawa Timur, 19 – 30 Juni 2000 lalu,  juga punya kenangan yang tak mungkin saya lupakan, karena Kantor Tabloid Bijak di Kawasan Padang Baru, diporak perandakan segerombolan mahasiswa. (Peristiwa pengrusakan kantor Tabloid Bijak diliput oleh media massa, cetak dan elektronik  dalam negeri maupun luar negeri). Itu ketika saya berbicara atas nama Suahrial Aziz alumni pesantren Thawalib Padang Panjang dan IAIN Imam Bonjol Padang.
Kini, kalau seandainya saya Syahrial Bahktiar, jelas saya  lagi pusing tujuh keliling dalam mengambil keputusan tegas mengenai pengurangan atlet yang akan di bawa ke PON Jawa Barat, November 2016 mendatang. Kenapa bingung?. Karena kalau dibawa semua atlet yang lolos PON Jawa Barat, berjumlah 407, plus pelatih, plus pengurus, plus pejabat dan plus wartawan olahraga, yang tak mungkin cukup dengan dana Rp 30 miliar yang telah dianggarkan di APBD Sumbar.
Kemudian, kalau dilakukan pengurangan, saya legi bingung juga mencari alasan tentang pengurangan atlet tersebut. Persoalan ini, terjadi karena kealpaan membuat regulasi, Maret-April 2015 lalu tentang persyaratan tegas untuk bisa dibawa ke PON Jabar. Padahal dulu itu, jika saya membuat regulasi dengan bahasa tegas, bahwa atlet yang akan dibawa ke PON Jabar, hanya yang memperoleh medali saja. Titik. Rasanya saya tak akan menemui kesulitan yang rumit seperti sekarang ini.
Jujur, memang ada diantara pengurus yang memberikan saran, agar kontingen Sumatera Barat ke PON Jabar hanya diperkuat 250 atlet saja. Tapi, solusi ini juga membuat punyeng untuk menentukan atlet yang lolos PON berdasarkan peringkat dan kouta. Kenapa punyeng? Karena pengurus cabang olahraga, selain juga pengurus inti KONI Sumbar, juga pejabat dan anggota dewan yang terhormat.
Terakhir, saya juga mendapatkan masukan, sebaiknya memberangkat atlet sejumlah 135 orang yang di kejurnas, pra-PON dan Porwil memperoleh medali. Kemudian atlet yang lolos PON, tetapi tidak diberangkatkan, tetap diberikan uang pembinaan setiap bulan bersama pelatihnya. Tujuannya, agar atlet tersebut, terus berlatih, berlatih untuk dipersiapkan ke PON 2020 di Papua.
Pendapat ini, saya nilai masih realistik. Tapi yang namanya keputusan tentu punya dampak juga, karena ada yang senang dan adapula yang protes. Untuk itu, saya mengajak dan menghimbau pengurus inti KONI Sumbar, serta pegurus cabang olahraga, supaya bersabar dulu menunggu kepastian pencoretan atlet. Intinya, sabar, sabar, sabar dan bersabar. (Penulis wartawan tabloid bijak dan padangpos.com).