Objek Wisata di Padang Tak Nyaman Karena Banyak Tukang Palak

BIJAK ONLINE (Padang)-Hamdani salah seorang  fesbuker di media sosial menilai objek wisata di Kota Padang tak aman dan nayaman,  karena banyak tukang palak dengan berbagai bentuk pungutan, mulai dari uang parkir, uang keamanan dan uang kebersihan.

“Kalau lai buliah beri masukan,  Pantai Padang  tu harus di bersihkan dari  praktek premanisme dan maksiat,  agar para wisatawan tak terganggu oleh oknum tukang palak, dan tenda-tenda ceper,” kicauan Hamdani di status Yal Aziz yang memang sengaja meminta masukan dan saran kepada fesbuker di media sosial, Rabu, 29 Oktober 2014, tentang dunia wisata Kota Padang.

Kemudian, Hamdani menyarankan Dinas Pariwisata Kota Padang belajar ke kota lain. Setelah itu, sepanjang pantainya tidak ada tenda-tenda  ceper, sehingga  wisatawan pun bebas menilkmati pantai sepanjang mata memandang. “Kota Padang adalah kota pesisir pantai, nah benahi ini saja dulu,  baru bisa  kembangkan wisata agro yang bisa menjanjikan.

 Hamdani juga menyebutkan objek wisata  di daerah perbukitan seperti Lubuk Minturun, Kuranji. “Sekarang, apa Pemko Padang dan Dinas Pariwisata serius untuk membenahi ini semua???,” kicaun Hamdani lagi.

Sementara fesbuker,  Marzoni Cowox menyarankan agar Dinas Pariwisata lebih kreatif agi dalam mempromosian wisata Kota Padang. Kemudian,  Marzoni Cowox , dirinya punyo carito, karena sering ditelepon dan di SMS sama kawan-kawannya,  ketika pemko dan pemrov  setiap mangadakan acara baik, fesvital, lomba, karnaval, bazar yang juga membuat dirinya bingung untuk menjawab telepon temannya tersebut.  “Dinas Pariwisata Kota Padang harus menggunakan semua celah untuk mempromosian Kota Padang,  baik melalui selebaran, poster,  media cetak, elektronik, BBM, Facebook dan youtobe,” kicauanya.

Sedangkan Bambang Wijaya menyarankan, agar Dinas Pariwisata membuat agrowisata dikawasan Lubuk Minturun,  apalagi walikota dan kadis pariwisata ini sama sama berlatar belakang orang pertanian. “Seharusnya  mereka berdua lebih inovatif dan kreatif,” kicauannya.
Sementara Budi Fitra Helmi menilai dan menyarankan. Katanya, persoalan pariwisata itu sederhana saja. “Yang penting  bagaimana pengunjung merasa aman, nyaman, dan bersih,” kicaunya.

Kemudian, kata Budi Fitra Helmi, perbaiki apo nan ka digalehkan. Sudah tu jualah galeh tu dengan berbagai caro promosi. “Kalau promosi nan diduluan, galeh wak mengecewakan, sakali je urang namuah tibo nyeh,” .kicauannya dengan dialeg Pariaman.
Sedangkan Malin Mandaro menyarankan,  harago tarif makanan,  parkir di taplau harus jaleh.”Tukang palak jaan di bia bakaliaran di taplau,” kicauanya.

Sementara Ali Basar berkomentar dengan saran lima point. 1.Benahi Pantai Padang dan pantai jangan ditutup dengan bangunan  tenda esek esek alias tenda ceper.  2. Lanjutkan jalan dari Batang Harau ke Jembatan Siti nurbaya sampai ke Air Manis. 3. Perbaiki atau tinggikan kembali Batu Malin Kundang.  4. Benahi Jalan Siti  Nurbaya di Gunung Padang. 5. Hilang kan tukang palak di obyek wisata Kota Padang. “Cukup ini saja dibenahi. Akan ramai org ke padang. Ayooo coba,” kicauannya.

Sedangkan  Masri Malik berkoar, jangan sok alim semua warga,  wisata tidak akan terlepas dengan kehidupan bebas. Semuanya bebas,  namun terjamin keamanannya dan lengkap fasilitasnya. Cobalah pasti maju. “Kalau wisata baru harga harus dimiringkan untuk merebut pangsa pasar wisata yang telah laris manis.” (Y a)