Catatan Yal Aziz: “Menggugat” Kadis Parawisata Padang

SEBAGAIMANA pengakuan jujur saya pada tulisan sebelumnya yang berjudul;”Bendi Nasibmu
Kini,” bahwa saya bukanlah pakar atau orang yang  ahli dalam bidang dunia parawisata. Kepedulian saya menulis tentang dunia wisata Kota Padang secara bersambung lebih karena  melihat objek wisata Kota Padang — yang boleh dikatakan— tak terurus dan terabaikan oleh Dinas Parawisata, terutama masalah Sapta Pesona Wisata.

Padahal masalah Sapta Pesona Wisata tersebut merupakan keharusan bagi Pemko Padang, terutama bagi seorang kepala dinas parawisata,  jika memang ingin menjadikan Kota Padang sebagai daerah tujuan wisata, sebagaimana telah terjalinnya kesepakatan  lima kabupaten dan kota di Provinsi Sumatera Barat yang berkeinginan  mengembangkan daerah pariwisata pesisir sebagai primadona penguatan ekonomi masyarakatnya.  Kelima daerah tersebut,  Kota Padang, Kabupaten Kepulauan Mentawai, Kabupaten Pesisir Selatan, Kabupaten Padang Pariaman dan Kota Pariaman.

Bahkan waktu pembentukannya yang berlangsung di Hotel Pangeran, Kamis (23/10) lalu itu, Walikota Padang Mahyeldi Ansharullah dijadikan Ketua Dewan Eksekutif.

Yang hebatnya, Walikota Padang berharap, agar masing-masing daerah  menjadi wadah dalam pengembangan potensi  pariwisata kawasan pesisir yang sangat besar dan belum termanfaatkan dengan baik.

Katanya waktu itu, dari pengembangan pariwisata ini, walikota yakin, aspek perekonomian masyarakat juga akan tergenjot sehingga percepatan pengentasan kemiskinan yang menjadi masalah selama ini dapat teratasi.

Kemudian,  Deputi V (Pengembangan Daerah Khusus) Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal (PDT) Republik Indonesia, Lili Romli,  waktu itu, optimis dengan dibentuknya badan kerjasama pengembangan wisata pesisir tersebut. Alasanya, karena beberapa daerah pesisir di Sumbar memiliki potensi yang sama yaitu, pariwisata. Dengan dibentuknya forum regional management diharapkan ada suatu penanganan yang lebih fokus dan oleh pemerintah daerah tersebut.
Bertitik tolak dengan ungkapan walikota Padang, terlihat ada keseriusan untuk mengelola objek wisata dengan baik dan dikaitkannya dengan kebijakan untuk menggenjot ekonomi masyarakat di sekitar objek wisata.

Kini, jika Walikota Padang memang berkeinginan untuk memanfaatkan potensi wisata yang dikaitkan dengan program  mengentaskan kemiskinan, mau tidak mau semua objek wisata di Kota Padang harus dibenahi dan ditata dengan baik.

Yang tak kalah pentingnya, Walikota Padang harus menciptakan Sapta Pesona Wisata, di semua objek wisata yang ada di Kota Padang. Tujuannya, tak ada lagi tukang palak atau premanisme dan tak ada lagi harga makanan dan minuman main pakuak.
Sebagaimana kita ketahui, Sapta pesona Wisata, merupakan keharusan dan harus diwujudkan untuk menarik minat wisatawan berkunjung ke objek wisata di Kota Padang. Tujuannya,  agar wisatawan senang dan memperpanjang masa tinggal (length of stay) di Kota Padang.

Kemudian, setiap pengunjung wisata harus memperoleh kepuasan atas kunjungannya, karena wisatawan itu menemui, Sapta Pesona Wisata, yaitu,  aman, tertib, bersih, sejuk, indah, ramah dan kenangan. Soalnya,  setiap wisatawan umumnya mengharapkan tujuh unsur tersebut terealisasi di Kota Padang, seper ti rumah makan, restoran, travel, dan prarana pendukung dunia pariwisata lainnya. Jujur, saya tertarik membaca portal berita Dinas Parawisata Bukitting, yang menerangkan tentang Sapta Pesona Wisata, sehingga saya mengutipnya untuk pembaca.

1.  A M A N
Wisatawan akan senang berkunjung dan tinggal di suatu tempat apabila mereka merasa aman baik bagi dirinya maupun harta bendanya, yaitu :
Bebas dari pencopetan, pemerasan, penodongan selama berada ditempat objek wisata dan tempat – tempat lainya.
Bebas dari kecelakaan yang disebabkan alat perlengkapan dan fasilitas yang diperlukan kurang baik.
Bebas dari gangguan masyarakat, seperti pemaksaan oleh pedagang asongan di tempat – tempat rekreasi atau objek wisata.

2.  T E R T I B
Kondisi yang tertib adalah sesuatu yang sangat didambakan oleh setiap orang, termasuk wisatawan yang tercermin dari suasana yang teratur, rapi, adanya disiplin yang tinggi seperti :
Jam masuk kerja karyawan baik karyawan di hotel – hotel, biro perjalanan, karyawan di objek wisata selalu tepat waktu.
Tata letak bangunan, lalu lintas daan sarana transportasi lainnya serta taman kota yang tertata rapi, sesuai dengan aturan yang berlaku
Pelayanan dilakukan secara baik dan tepat.

3.  B E R S I H
Bersih adalah sesuatu keadaan / kondisi lingkungan dan suasana yang menampilkan kebersihan dan kesehatan di semua tempat yang menjadi kegiatan manusia baik ditempat umum maupun di daerah-daerah tempat tujuan, seperti:
Lingkungan yang bersih di objek-objek wisata, hotel-hotel, restoran dan sarana angkutan bersih dari sampah, kotoran, coret-coret, asap knalpot mobil dan lain-lain.
Makanan dan minuman yang akan dikonsumsi bersih dan sehat, didukung WC/Toilet yang higienis serta suasana lingkungan yang nyaman dan tertata apik.

4.  S E J U K
Sejuk adalah suatu keadaan/kondisi yang menampilkan lingkungan dan suasana yang sejuk, nyaman dan tenteram karena lingkungan yang serba hijau, segar dan asri. Kesejukan yang dikehendaki tidak saja harus berada di luar ruangan atau bangunan, akan tetapi di dalam ruangan kerja, lobby, kamar-kamar hotel, ruangan kantor biro-biro perjalanan dan sebagainya.
Turut aktif memelihara keindahan pepohonan dilingkungan, serta hasil penghijauan yang telah dilaksanakan oleh masyarakat atau pemerintah.
Mengisi ruangan kerja, kamar-kamar dengan berbagai penghijauan/bunga-bungaan yang alami.
Berperan aktif dalam melaksanakan misalnya melakukan penanaman pohon dilingkungan objek wisata, halaman hotel-hotel, rumah makan, pertokoan dan perkantoran serta rumah-rumah tempat tinggal.

5.  I N D A H
Keadaan/kondisi yang menampilakan suasana yang menunjukkan keserasian dan keselarasan suatu lingkungan seperti tata warna, tata letak, tata bentuk ruang, gaya, gerak serasi dan selaras di objek wisata serta akomodasi sehingga memberi nuansa indah yang memenuhi nilai-nilai estetika.

6.  R A M A H
Ramah-tamah adalah suatu sikap dan perilaku seseorang yang menunjukkan keakraban, sopan dan senang membantu. Ramah-tamah sebagaimana yang dimaksud merupakan watak dan budaya Indonesia yang selalu menghormati tamunya dan dapat menjadi tuan rumah yang baik. Sikap ramah-tamah ini menjadi salah satu hal yang sangat menarik bagi wisatawan. Sebagai contoh sikap ramah-tamah yang diharapkan wisatawan baik di hotel maupun di objek-objek wisata dan pusat-pusat perbelanjaan, yaitu sikap ramah petugas atau karyawan dalam memberikan pelayanan kepada wisatawan.

7.  K E N A N G A N
Kenangan adalah suatu kesan yang melekat kuat pada ingatan dan perasaan seseorang yang disebabkan oleh pengalaman yang diperolehnya. Kenangan yang ingin diwujudkan dalam ingatan wisatawan adalah kenangan indah dan menyenangkan dalam berwisata antara lain:
Akomodasi yang nyaman, bersih, sehat, pelayanan yang cepat, tepat dan bersih. Suasana yang mencerminkan ciri khas daerah dalam bentuk dan gaya bangunan, suasana dan dekorasinya.
Atraksi seni dan budaya yang khas dan mempesona, baik itu berupa seni tari, seni suara dan berbagai macam upacara

Tersedianya berbagai souvenir hasil kerajinan masyarakat setempat dan makanan khas daerah sebagai oleh-oleh bagi wisatawa. (bersambung dan penulis adalah wartawan tabloidbijak)

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *